“Setelah khatam itu, saya berpikiran, kenapa saya mengajar orang lain, mengapa tidak mengajar orang Indonesia saja? Akhirnya ada orang Indonesia menghubungi saya dan kemudian saya mengajar sekitar enam sampai tujuh anak dan berlangsung sampai delapan tahun. Waktu itu, yang khatam Alquran hanya satu orang, karena memang punya kendala masing-masing. Ada yang baru juz 5 sudah selesai, karena terkendala tempat yang jauh, dan sebagainya,” bebernya.

Alquran terdiri dari 30 juz atau bagian.

Kartini yang berasal dari Pati, Jawa Tengah ini, biasanya mengajar dengan cara langsung dengan minimal satu pertemuan berlangsung selama satu jam.

“Nah, ketika mengajar mengaji, saya sempatkan juga mengajar salat kepada mereka. Termasuk gerakan dan bacaan semua, juga doa-doa pendek, semisal ayat Kursi, Alhamdulillah mereka sekarang sudah bisa semua," katanya.

Lain lagi kisah Abu Yusuf, Muslim asal Pattani, Thailand Selatan yang bermukim di Inggris.

Abu Yusuf merupakan mahasiswa doktoral bidang kesehatan yang bekerja di sebuah rumah sakit di Thailand Selatan.

“Tantangan terbesar mengajari anak mengaji di Inggris ini kan memang komunitasnya tidak banyak, jadi perlu fokus agar anak-anak merasa diperhatikan dan juga senang. Beda kalau di Thailand, di Indonesia atau Malaysia. Teman anak-anak yang mengaji banyak, baik di rumah maupun di surau, jadi mereka senang,” kata Abu yang sedang melakukan riset tentang manfaat madu untuk medis modern.

Abu mengungkapkan, kendala lain mengajar mengaji anak-anak yang terlahir di Inggris adalah mengenai makhraj atau bunyi huruf.

“Jadi kalau anak-anak Inggris itu kan lidahnya agak beda, terutama kalau kita tekankan makharijal huruf, atau makhraj. Itu kan agak susah untuk anak-anak Inggris, semisal huruf ‘ain, dhot, syin, dan beberapa huruf lain, tapi ya saya ajari pelan-pelan, tidak seratus persen sesuai, yang penting mereka nyaman dulu mengaji Alquran,” katanya.

Sebagaimana Abu Yusuf, guru mengaji Alquran lainnya, Suwondo juga menghadapi tantangan yang sama ketika mengajar mengaji anak-anaknya.