Guru Wildan saat didatangi Bawaslu, sempat mengingatkan penyelenggara pemilu, baik KPU dan Bawaslu agar lebih gencar menyosialisasikan atau berkampanye tentang PSU kepada seluruh masyarakat Kalsel, utamanya masyarakat yang berada di wilayah PSU.

“Kampanye yang dilarang jelang PSU adalah kampanye oleh pasangan calon dan tim pemenangannya. Kalau kampanye oleh KPU dan Bawaslu agar semakin banyak masyarakat yang ikut menyukseskan PSU kan tidak dilarang. Sosialisasi kepada masyarakat tentang PSU menurut saya masih minim,” tambah Guru Wildan.

Gencar Gunakan Politik Fitnah

Guru Wildan saat ditanya tentang olok-olok yang ditujukan kepadanya karena sebagai seorang ulama telah berpolitik, justru mencontohkan apa yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW.

“Rasulullah saat menyampaikan kebenaran atau sesuatu yang haq, beliau juga dicemooh dan dihujat oleh orang-orang yang tidak sepaham. Beliau tersenyum dan justru mendoakan agar mereka yang menghujat diberi hidayah oleh Allah SWT,” kata Guru Wildan.

Guru Wildan bahkan menegaskan bahwa Rasulullah juga mencotohkan bersiyasah atau berpolitik demi menyerukan kebenaran atau haq. 

“Adapun ulama berpolitik itu boleh. Politik atau dalam bahasa Arabnya siyasah. Tidak ada satupun ulama yang mengharamkan bersiyasah. Yang tidak diboleh itu berpolitik buruk. Rasulullah saja bersiyasah dalam peperangan,” tegas Guru Wildan.

Guru Wildan kemudian memaparkan mengapa dia merasa wajib berpesan kepada para muridnya di Darussalam agar mendukung Paman Birin. Sebab Guru Wildan melihat ada pihak yang secara kasat mata gencar mempergunakan politik fitnah yang membahayakan masyarakat Kalsel menjelang pelaksanaan PSU.

“Jelang PSU ini ada yang gencar melakukan politik fitnah. Maka sudah menjadi tugas para guru dan pemuka agama untuk menjaga masyarakat dari pengaruh politik fitnah. Sebab politik fitnah paling berbahaya karena menebar kebencian terhadap pihak lain, atau menebar kebohongan supaya muncul kebencian dan merugikan orang lain,” tegas Guru Wildan.