Sekarang, untuk masa panen bisa terus berlanjut sampai bulan September. Menurut hitungan Dinas Pertanian Tapin, dalam waktu 6 bulan masa panen Tahun 2020, petani menghasilkan cabai rawit segar sebanyak 1.310 ton.
“Setiap tahun akan terus di tingkatkan. Kendala sekarang untuk memperpanjang masa panen adalah media tanam yang kala musim hujan bisa meredam tanaman, kedepan akan ditinggikan,” ujarnya.
Keunggulan cabai rawit hiyung itu dari publikasi Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian Kalsel, cabai itu memiliki tingkat kepedasan hingga 94.500 part per milion (ppm) atau setara dengan 17 kali lipat dari cabai biasa. Selain rasanya yang pedas, daya penyimpanannya mampu bertahan sampai 10 hari pada suhu normal.
Di tempat asalnya, wilayah budidayanya di atas tanah berjenis gleihumus dan alluvial dengan tingkat keasaman tanah (pH) antara 3,4 – 3,6. Luas lahan tanam khusus untuk cabe rawit hiyung sudah mencapai 255 hektar, ditargetkan ke depannya mencapai 380 hektar.
“Lahannya semua di atas lahan rawa lebak. Hal itu lah yang mungkin mempengaruhi tingkat kepedasan cabai rawit hiyung. Kalau ditanam ditempat lain rasa pedasnya berkurang,” ujarnya.
Masih dari Wagimin, dikatakannya bahwa dari 420 kepala keluarga (KK) yang berada di Desa Hiyung, sebanyak 98 persen bekerja sebagai petani cabai.
Cabai Hiyung ini, pertama kali di tanam oleh Khalilurrahman atau dikenal dengan Pak Barjo, 23 tahun lalu pada tahun 1993 membawa bibit dari area perbukitan di Tapin sebanyak 200 bibit dan menanamnya di atas rawa lebak itu.







