Taktik Satgas OMC Uraikan Asap di Kalselteng, Tebar 155 Ton Bahan Penyemai
Armada tersebut terdiri atas lima pesawat TNI AU yaitu satu Hercules, satu CN295, dan tiga Cassa, serta tiga pesawat mitra BNPB berupa dua Caravan dan satu Pilatus.
”Kalau tidak ada awan tapi asap pekat dan PM2.5 naik, saya sebar dry ice. Tapi kalau pertumbuhan awan bagus, kita sebar NaCl untuk memanen hujan di lahan gambut,” tambahnya.
Pada giat 3 November 2026, Fikri mengungkapkan tim satgas menyemaikan 1.800 kilogram garam di wilayah Tanah Laut dan Tanah Bumbu menggunakan pesawat Caravan (1 ton) dan TNI AU (800 kg).
Kelancaran pasokan garam juga terus diperkuat dengan masuknya pasokan 6 ton garam dari pusat menggunakan pesawat Hercules guna menambah sisa stok 5 ton di posko.
Sementara terkait kekhawatiran publik soal potensi cuaca ekstrem, Fikri memastikan tim satgas sangat hati-hati memilah jenis awan agar operasi penyemaian tidak memicu bencana angin kencang, puting beliung, maupun banjir.
Langkah ini dilakukan dengan menghindari intervensi pada awan pekat yang berpotensi menimbulkan pusaran angin kencang di kawasan pemukiman.
”Jika ada potensi awan Cumulonimbus (CB) yang sangat pekat terutama di kawasan perkotaan, kita tidak intervensi. Target utama kita difokuskan untuk memicu hujan di lahan-lahan gambut,” tegasnya.
Saat ini, Fikri menjelaskan seluruh dinamika penerbangan di Kalimantan dilaporkan secara berkala ke Posko OMC Terpadu Halim Perdanakusuma di Jakarta melalui koordinasi briefing pagi pukul 08.30 WITA dan debriefing sore pukul 17.30 WITA via Zoom.
Posko Kalsel berintegrasi langsung dengan posko daerah lain mulai dari Kalteng, Sumsel, Sultra, hingga Papua Selatan demi memastikan evaluasi hujan di tiap provinsi berjalan presisi.
”Setiap hari kita evaluasi hasilnya. Penyemaian terus dipercepat sampai pimpinan memutuskan laporan sudah mandali atau aman terkendali saat hujan merata,” pungkasnya. (wartabanjar.com)