Namun, arah angin dapat berubah menurut lokasi, ketinggian, waktu, dan kondisi atmosfer.

"Karena itu, angin di Kalimantan belum tentu memiliki arah yang sama dengan angin di Laut Jawa maupun Jakarta," kata Daryono.

Selain itu, lanjutnya, asap karhutla juga dapat terbawa angin pada lapisan atmosfer yang berbeda. 

Asap karhutla berpartikel halus PM2.5, dapat terangkat oleh turbulensi dan konveksi hingga ratusan atau ribuan meter. 

Pada ketinggian tertentu, arah angin dapat berbeda dari angin permukaan. 

"Kondisi ini memungkinkan asap bergerak mengikuti jalur transportasi atmosfer yang tidak selalu searah dengan angin yang dirasakan masyarakat di permukaan," tegas Daryono yang pernah menjabat Direktur Gempa dan Tsunami BMKG ini.

Ia juga mengungkapkan perubahan arah angin regional dapat menjadi jalur transportasi asap. 

Gangguan atmosfer, daerah tekanan rendah, sirkulasi siklonik, dan periode peralihan monsun dapat pula mengubah pola angin sementara.

"Apabila terbentuk aliran udara dari kawasan kebakaran menuju Laut Jawa dan Jakarta, partikel asap berpotensi terbawa melintasi jarak ratusan kilometer," ucapnya.

Meski asap dapat menyebar jauh, dikatakan Daryono, selama perjalanan, asap akabn mengalami pengenceran, pencampuran, transformasi kimia, serta pengendapan. 

Karena itu menurutnya, asap yang datang masuk ke atmosfer Jakarta belum tentu menimbulkan pencemaran udara yang berat. 

"Dampaknya bergantung pada besarnya emisi, arah dan kecepatan angin, curah hujan, serta stabilitas atmosfer," tegasnya. (wartabanjar.com/kps)