Berdasarkan data Ditjen Perhubungan Udara, dari total penerbangan yang terdampak karhutla, sebanyak 745 penerbangan mengalami keterlambatan (delay), 907 penerbangan dibatalkan atau ditunda (cancelled/postponed), 15 penerbangan dialihkan ke bandara lain (divert), dan enam penerbangan kembali ke bandara keberangkatan (return to base/RTB).

Gangguan operasional tersebut melibatkan 10 maskapai. 

Citilink Indonesia mencatat jumlah penerbangan terdampak tertinggi sebanyak 478 penerbangan, disusul Nam Air sebanyak 300 penerbangan dan Wings Air sebanyak 227 penerbangan.

Selanjutnya, Super Air Jet mencatat 161 penerbangan terdampak, Surya Mataram 134 penerbangan, Batik Air 112 penerbangan, Garuda Indonesia 97 penerbangan, TransNusa 94 penerbangan, Lion Air 41 penerbangan, dan Sriwijaya Air 29 penerbangan.

Dari sisi keterlambatan, Citilink menjadi maskapai dengan jumlah delay terbanyak, yakni 357 penerbangan, diikuti NAM Air sebanyak 212 penerbangan. 

Sementara itu, pembatalan terbanyak dialami Wings Air dengan 226 penerbangan, disusul Super Air Jet sebanyak 158 penerbangan dan Citilink sebanyak 115 penerbangan.

Secara kewilayahan, dampak karhutla paling signifikan terjadi di sejumlah bandara di Kalimantan, antara lain Bandara Supadio di Pontianak, Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya, Bandara Iskandar di Pangkalan Bun, Bandara H. Asan di Sampit, Bandara Rahadi Oesman di Ketapang, serta Bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin.(Wartabanjar.com)