Mengapa Disebut “Bakipas Pangeran”? Bukan Feodalisme, Ini Makna Sebenarnya Tradisi Batalam di Tabalong
WARTABANJAR.COM, TANJUNG – Tradisi “Makan Batalam Bakipas Pangeran” dari Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tabalong, Gt Judid Permana, mengatakan penetapan tersebut merupakan kebanggaan sekaligus bentuk apresiasi terhadap masyarakat, yang selama ini menjaga tradisi daerah.
“Pencapaian ini adalah milik kita bersama. Terima kasih kepada pemerintah pusat, Kementerian Kebudayaan yang membuat kami dan masyarakat Tabalong khususnya menjadi berbangga hati, bersyukur atas penetapan ini,” kata Judid, Rabu (16/09/2026).
Camat Banua Lawas, Arianto, menjelaskan “Makan Batalam” merupakan tradisi makan bersama yang telah berkembang di tengah masyarakat Tabalong, khususnya di Kecamatan Banua Lawas.
Tradisi tersebut rutin dilaksanakan, salah satunya dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Nama “batalam” berasal dari kata talam, yakni nampan atau wadah besar yang digunakan untuk menyajikan makanan.
Menurut Arianto, tradisi tersebut telah berlangsung lebih dari satu abad dan diwariskan secara turun-temurun.
Dalam pelaksanaannya, satu talam biasanya berisi nasi, lauk seperti ayam atau itik, ikan panggang, sayur, serta kuah.
Baca Juga: ISPU Tabalong Capai 210, Pembelajaran Tatap Muka PAUD hingga SMP Kembali Dialihkan ke PJJ
Hidangan tersebut kemudian disantap bersama oleh sekitar empat hingga enam orang.
“Maknanya adalah persatuan, silaturahmi dan rasa syukur,” ujar Arianto.
Salah satu bagian yang menarik perhatian dari tradisi tersebut adalah istilah “Bakipas Pangeran”.
Sekilas, istilah tersebut dapat dikaitkan dengan kehidupan bangsawan atau kerajaan.
Namun, menurut Arianto, makna “Bakipas Pangeran” tidak tepat jika langsung disamakan dengan praktik feodalisme.
“Bakipas” secara sederhana berarti mengipasi, sedangkan “pangeran” merujuk kepada tokoh bangsawan atau kerajaan.
Dalam konteks tradisi Batalam, istilah tersebut berkaitan dengan cara masyarakat menghormati dan melayani tamu yang dianggap penting.
Arianto menjelaskan, dalam ingatan sejarah masyarakat Banjar, seorang tamu penting akan disambut, dihormati, kemudian dilayani dan dijamu.