Kipas pada masa lalu menjadi salah satu bagian dari tata krama pelayanan terhadap orang yang dihormati.

“Jadi konsepnya adalah tamu penting yang datang, disambut, dihormati kemudian dilayani dan diberikan jamuan makan. Sementara kipas pada masa lalu merupakan bagian dari tata krama pelayanan kepada orang yang dihormati,” jelasnya.

Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang dan berbaur dengan kehidupan masyarakat serta nilai-nilai Islam.

Batalam yang pada masa lalu memiliki kaitan dengan lingkungan kerajaan, kemudian berkembang menjadi tradisi sosial masyarakat.

Ketika dilaksanakan dalam rangka Maulid Nabi, kata Arianto, penghormatan dalam tradisi tersebut juga mengalami perubahan makna.

Tokoh yang dihormati tidak lagi semata-mata karena status kebangsawanan, tetapi dapat berupa ulama, guru agama, tokoh masyarakat, tamu, hingga seluruh warga yang hadir.

“Ketika tradisi itu berkembang ke dalam kegiatan Maulid Nabi, orientasinya juga berubah. Mereka yang dihormati bukan lagi semata-mata status bangsawan, tetapi para ulama, guru agama, tokoh masyarakat, tamu, dan seluruh warga dalam suasana kebersamaan,” katanya.

Arianto mengatakan, masyarakat perlu berhati-hati dalam menyebut tradisi Batalam sebagai bagian dari feodalisme.

Sebab, praktik yang masih dijalankan masyarakat saat ini justru menonjolkan kebersamaan.

Menurutnya, “Bakipas Pangeran” lebih tepat dipahami sebagai bagian dari ingatan sejarah, mengenai tata cara masyarakat Banjar menghormati dan menjamu tamu yang dimuliakan.

“Sejarahnya kita hormati, tetapi feodalismenya tidak perlu kita warisi. Nilai baiknya kita ambil, kemudian kita hidupkan dalam semangat kebersamaan dalam kesetaraan,” tandas Arianto. (wartabanjar.com)