Dukungan Udara dan OMC Terus Berjalan

Dalam penanganan karhutla Kalsel, dukungan udara dari BNPB saat ini meliputi satu pesawat untuk operasi modifikasi cuaca (OMC), satu pesawat patroli udara, satu helikopter patroli udara, serta tiga helikopter water bombing.

Operasi modifikasi cuaca juga tetap diupayakan karena potensi pertumbuhan awan hujan masih tersedia.

Namun, efektivitas OMC sangat bergantung pada keberadaan awan yang memungkinkan dilakukan penyemaian.

Dalam laporan tambahan kepada Wapres, disampaikan bahwa secara nasional Kalsel berada di urutan keempat berdasarkan luasan lahan terbakar.

Secara nasional, luasan lahan terbakar hingga saat ini disebut sekitar 72.000 hektare, jauh lebih rendah dibandingkan periode El Nino 2023 yang mencapai sekitar 600.000 hektare secara nasional.

Untuk kondisi harian, luasan lahan terbakar secara nasional dilaporkan sekitar 1.320 hektare, dengan luasan terbesar berada di Kalimantan Barat, disusul Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan Jambi.

ISPA Meningkat, Warga Diminta Waspada

Dampak kabut asap juga mulai terlihat pada kondisi kesehatan masyarakat.

BPBD melaporkan adanya peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sekitar 59 persen dari minggu ke-28 hingga minggu ke-32. Kondisi tersebut dikaitkan dengan meningkatnya partikulat PM2,5 di sejumlah wilayah Kalsel.

Berdasarkan pemantauan, peningkatan partikulat PM2,5 cenderung terjadi pada rentang waktu pukul 04.00 hingga 09.00 WITA.

Masyarakat pun diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan pada jam tersebut.

Penyesuaian aktivitas sekolah juga akan mempertimbangkan kondisi kualitas udara, dengan waktu aktivitas yang diharapkan dapat dimulai setelah pukul 09.00 WITA.

“Seperti yang kita saksikan saat ini, di atas jam 09.00 kondisi cuaca cukup bersih. Memang di jam 04.00 sampai jam 09.00 terjadi peningkatan partikulat,” jelasnya.

Satgas Darat Jadi Kekuatan Utama

Dalam laporan tersebut juga ditegaskan bahwa penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan udara.

Satgas darat yang melibatkan TNI, Polri, BNPB, Masyarakat Peduli Api, Manggala Agni Kementerian Kehutanan serta para relawan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi karhutla.

Dukungan udara memiliki keterbatasan, terutama karena faktor cuaca dan kemampuan daya angkut air helikopter.