Setelah perpisahan, seseorang perlu menata ulang identitas dirinya karena peran dan rutinitas yang selama ini terbentuk bersama pasangan akan berubah sepenuhnya.

Dengan coping yang adaptif, seseorang belajar untuk menerima kenyataan tanpa menekan perasaannya. 

Menangis, menulis jurnal, atau berkonsultasi dengan profesional dapat menjadi cara untuk menyalurkan emosi secara aman.

Ia menekankan, kemampuan ini membantu menjaga kesehatan mental tetap stabil di tengah proses yang menantang.

2. Cari dukungan dari orang dekat

Ketika tidak ada pasangan, orang yang bercerai harus punya support system untuk mendukung dan membantu memulihkan diri kembali pascabercerai.

Dukungan sosial ini bisa datang dari teman, keluarga, sahabat, hingga komunitas yang memahami situasi serupa. 

Bentuknya bisa beragam mulai dari dukungan emosional berupa rasa didengarkan

"Juga dukungan finansial bagi yang masih belum stabil secara ekonomi," katanya.

3. Mengelola emosi

Tahap selanjutnya mengelola emosi yakni kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola perasaan dengan bijak.

Diharapkan, seseorang yang baru bercerai tidak berlarut-larut dalam kesedihan atau kemarahan.

Sebaliknya, cepat move on dengan merespons situasi secara lebih tenang dan rasional. (wartabanjar.com/berbagai sumber)