Karhutla di Lahan Gambut Kalsel Tak Kunjung Padam, Operasi Modifikasi Cuaca Dilakukan Lagi
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Kalimantan Selatan belum benar-benar takluk.
Di balik lahan yang tampak telah padam, bara masih ditemukan hingga kedalaman satu sampai dua meter di lahan gambut.
Kondisi ini membuat BNPB kembali mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu membasahi kawasan rawan karhutla.
OMC kembali bergerak setelah rapat koordinasi Satgas Udara Karhutla di Lanud Sjamsuddin Noor, Sabtu (5/9/2026).
Tenaga Ahli Kepala BNPB, Brigjen TNI (Purn) Herman Hidayat, mengatakan hasil evaluasi bersama BMKG menunjukkan masih terdapat peluang pembentukan awan yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.
Herman mengatakan sebelumnya OMC telah dilaksanakan pada 17-21 Juli 2026.
Baca Juga Murid TK di Banjarmasin Tak Boleh Bawa Pulang MBG, Wajib Makan Sebelum Batas Waktu
Namun, setelah itu kondisi atmosfer di sejumlah wilayah Kalsel tidak lagi mendukung karena awan semakin minim.
“Jangankan hujan, awan pun sudah tidak nampak dan sudah bersih,” ujar Herman saat ditemui usai rapat koordinasi.
Menurutnya, kondisi tersebut turut memperparah karhutla. Cuaca panas, angin yang cukup kencang serta karakteristik lahan bergambut membuat api lebih sulit ditangani.
Yang menjadi persoalan, kata Herman, api di lahan gambut tidak selalu terlihat dari permukaan.
Meski permukaan telah dibasahi dan tampak padam, bara masih dapat bertahan di bawah tanah.
“Sudah padam kelihatannya, namun di bawah itu sampai satu meter, dua meter masih ada,” katanya.
Karena itu, OMC diarahkan sebagai operasi pendukung untuk mempercepat turunnya hujan melalui penyemaian awan yang memenuhi syarat.
Berdasarkan evaluasi BMKG dan BNPB, peluang pelaksanaan OMC masih terbuka pada 7, 8 dan 9 September 2026, meski peluangnya diperkirakan mulai berkurang pada 9 September.
Herman menjelaskan, bahan penyemaian berupa garam dibawa menggunakan pesawat dan ditaburkan ketika ditemukan awan dengan kandungan uap air yang memungkinkan untuk dimodifikasi.