Kondisi kawasan tersebut sebelumnya terdampak kebakaran lahan. Saat ini api disebut sudah padam dan hanya menyisakan bara di sejumlah titik, sehingga pembasahan masih diperlukan untuk mencegah munculnya kembali api.

Kasman mengungkapkan, kebakaran memberikan dampak besar terhadap lahan sekitar lima hektare yang dikelolanya. 

Sejumlah tanaman seperti durian, petai, rambutan dan jeruk ikut terdampak, bahkan sebagian besar tanaman di lahan tersebut habis terbakar.

“Kurang lebih lima hektare. Durian, petai, rambutan, jeruk, lengkap di sini. Habis sama sekali, tinggal yang di pinggir rumah saja,” tuturnya.

Selain kerugian terhadap lahan dan tanaman, kebakaran juga berdampak pada aktivitas ekonomi keluarga. 

Kasman mengatakan, dirinya hampir sebulan kesulitan beraktivitas dan mencari penghasilan, sementara kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak tetap berjalan.

Bantuan berupa sembako dan layanan kesehatan sebelumnya juga telah diterima warga. Namun, menurut Kasman, bantuan tersebut baru sebatas meringankan beban, karena dampak kebakaran yang dirasakan masyarakat cukup besar.

Dampak asap kebakaran juga dirasakan keluarga Kasman. Salah seorang anaknya sempat mengalami gangguan pernapasan, dan telah mendapatkan pemeriksaan dari petugas kesehatan yang datang ke kawasan tersebut. 

Selain obat, warga juga mendapatkan vitamin dan masker.

Kasman berharap perhatian pemerintah terus berlanjut, tidak hanya melalui pembangunan sumur bor, tetapi juga bantuan untuk pemulihan lahan dan kehidupan masyarakat yang terdampak karhutla. 

Dengan rampungnya sumur bor pertama di Jl Kurnia Ujung dan rencana pembangunan sumur kedua di kawasan Pondok Pesantren Darul Mukhlasin Al-Masruriyy Badlan Kalimantan, warga berharap ketersediaan air semakin memadai untuk mendukung pembasahan lahan dan mengantisipasi munculnya kembali titik api. (wartabanjar.com)