WARTABANJAR.COM, SAMARINDA - Kendati kaya tambang seperti minyak dan batu bara hingga memberikan banyak pendapatan bagi negeri ini tidak berarti masyarakat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sejahtera.

Dari 38 provinsi di Indonesia, Kaltim bahkan masuk daftar 15 besar provinsi dengan jumlah pengangguran terbesar, tepatnya di peringkat 12 dengan angka pengangguran 5,18 persen.

Dari Kalimantan juga ada Kalimantan Barat (Kalbar) di posisi ke-13 dengan angka pengangguan 4,82 persen.

Baca juga: Hasil Barito Putera vs Madura United 0-1, Dua Kali Kalah dari Tim Liga 1

Baca juga: Jarak Pandang Cuma 300 Meter, Pesawat Batal Darati Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya

Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, yang juga kaya tambang, masuk pula dalam daftar ini, tepatnya di urutan sembilan dengan jumlah pengangguran 5,64 persen.

Demikian juga Papua, yang bahkan menempati posisi pertama dengan angka 6,96 persen, dan Papua Barat Daya di peringkat dua dengan angka 6,85 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional pada Agustus 2025 sebesar 4,85 persen, tepatnya 7,46 juta orang.

BPS menyatakan tingginya pengangguran di Kaltim justru karena struktur ekonominya bertumpu pada sektor ekstraktif, khususnya pertambangan.

Ketergantungan pada sektor padat modal ini membuat penyerapan tenaga kerja cenderung fluktuatif dan tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja.

Selain faktor sektor usaha, tantangan ketenagakerjaan di Kalimantan Timur juga dipengaruhi oleh komposisi usia dan pendidikan tenaga kerja.

Kelompok usia muda serta lulusan pendidikan menengah dan kejuruan masih mendominasi angka pengangguran, menunjukkan perlunya penguatan link and match antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.

Pada Agustus 2025, Indonesia mencatat 7,46 juta pengangguran, turun sekitar 4.092 orang dibanding Agustus 2024. 

Penurunan terjadi di beberapa kelompok.

Berdasarkan wilayah, pengangguran perkotaan 5,75 persen, sementara perdesaan 3,47 persen.

Kelompok usia 15–24 tahun mencatat TPT tertinggi yakni 16,89 persen, sementara kelompok usia 60+ hanya 1,71 persen.

Dari sisi pendidikan, lulusan SMK masih menjadi penyumbang pengangguran terbanyak secara nasional dengan TPT 8,63 persen, disusul lulusan SMA (6,88 persen), dan Perguruan Tinggi (5,39 persen).(wartabanjar.com)