Dari sisi ketahanan cuaca, Mulyadi menjelaskan bahwa padi unggul jauh lebih tahan menghadapi perubahan musim, karena masa vegetatif dan generatifnya sangat singkat, sehingga panen dapat diselesaikan sebelum puncak kekeringan tiba.

"Usianya 114 hari, tapi kalau di musim kemarau yang kedua panen di bulan enam atau bulan tujuh itu 100 hari paling lambat," jelasnya.

​Pada musim tanam tahun ini, Mulyadi mencatatkan dua kali masa panen sukses di dua lokasi lahan garapannya, yakni pada bulan Maret dan Juli sebelum dampak kekeringan parah melanda.

​"Yang 17 borong panen pertama dapat tiga ton yang dijual kemarin, terus panen kedua dapat dua ton setengah. Yang 30 borong panen pertama dapat tiga ton, yang kedua dua ton," ungkapnya.

​Mulyadi menegaskan, keunggulan ekonomis dari benih unggul umur pendek sangat jauh, jika dibandingkan dengan hasil panen dari benih padi lokal, yang rentan terkena dampak cuaca ekstrem.

"Kalau menurut kita lebih menguntungkan yang unggul. Biarpun capek tanam dua kali, tapi hasilnya lebih banyak. Kalau benih lokal 17 borong tuh enggak dapat tiga ton, separuhnya mungkin," tegas Mulyadi.

​Kendati keberhasilan telah dirasakan hampir 100 persen di Desa Maluka Baulin, Mulyadi menyebutkan bahwa wilayah sekitar, seperti sebagian kawasan Raden masih ada yang bertahan menggunakan benih padi tahun, sehingga risikonya tinggi saat kemarau tiba.

​"Kalau kawasan Raden belum semuanya beralih ke benih unggul, di paritan balai desa itu sebagian masih banyak menanam padi tahun," tambah Mulyadi.

​Mengenai peluang meningkatkan Indeks Pertanaman menjadi IP 300 atau tiga kali panen dalam setahun, Mulyadi mengaku masih menanti ketersediaan benih yang memiliki umur jauh lebih genjah.

​"Bibitnya tak memadai. Seandainya ada bibit yang lebih pendek umurnya di umur 70 atau 75 hari, kemungkinan besar kita berani tanam, tapi kalau masih umur 114 hari kita tak berani tanam," pungkasnya.