WARTABANJAR.COM, BARABAI – Sebanyak 478 titik panas atau hotspot terpantau di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Provinsi Kalimantan Selatan pada 1 Januari-25 Agustus 2026 berdasarkan data aplikasi Sipongi.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD dan Damkar) HST mencatat 50 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan total luas sekitar 89 hektare.

Kasi Kedaruratan, Fitriadinor, mengatakan jumlah tersebut diketahui dari berbagai laporan, di antaranya masyarakat dan hasil pemantauan patroli udara yang kemudian ditindaklanjuti petugas.

“Dari laporan yang masuk, kami lakukan ground check. Jika ditemukan kebakaran, kami langsung lakukan pemadaman,” kata Fitriadinor mewakili Kepala Pelaksana BPBD dan Damkar HST saat dikonfirmasi Wartabanjar.com, Rabu (26/8/2026).

Baca juga: ISPA di HST Tembus 24.601 Kasus hingga Juli, Dinkes Waspadai Kabut Asap Karhutla

Baca juga: Bantu Warga Hadapi Kekeringan, BPBD dan Polres Tabalong Distribusikan Air Bersih di Kecamatan Tanta

Sejumlah kebakaran dengan luasan cukup besar terjadi selama Juli hingga Agustus

Di Desa Awang, Kecamatan Batang Alai Utara, kebakaran pada 23 Juli 2026 menghanguskan sekitar 5 hektare lahan, yang sekitar 3 hektare di antaranya berhasil dipadamkan petugas.

Kebakaran dengan luasan sekitar 5 hektare juga terjadi di Desa Tungkup, Kecamatan Labuan Amas Utara, pada 26 Juli 2026.

Memasuki Agustus, kebakaran lahan dengan luasan cukup besar masih ditemukan. 

Pada 7 Agustus 2026, sekitar 4 hektare lahan terbakar di Desa Batu Panggung, Kecamatan Hantakan.

Karhutla tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya Barabai, Pandawan, Labuan Amas Selatan, Batang Alai Utara, Labuan Amas Utara, Hantakan, Batu Benawa dan Haruyan.

Lahan yang terbakar meliputi semak belukar, kebun, hutan hingga lahan rumbia.

Di tengah penanganan tersebut, akses menuju sejumlah lokasi menjadi salah satu kendala petugas. 

Kondisi medan membuat proses pemadaman tidak selalu mudah dilakukan.

“Alhamdulillah untuk alat mencukupi, namun ada beberapa lokasi yang sulit dijangkau sehingga penanganannya terkendala akses,” ujar Fitriadinor.

Penanganan Karhutla di HST juga melibatkan sejumlah unsur di lapangan.