218 Siswa Ikuti FTBI HST 2026, Bahasa Banjar Diperlombakan Lewat Bakisah dan Bapantun
WARTABANJAR.COM, BARABAI – Bahasa Banjar mendapat ruang di Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang Sekolah Dasar tingkat Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Rabu (26/8/2026).
Digelar di SMPN 10, kegiatan tersebut mempertemukan ratusan siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka menggunakan bahasa Banjar melalui berbagai lomba.
Kepala Dinas Pendidikan HST Muhammad Anhar mengatakan, FTBI tingkat kabupaten menjadi puncak rangkaian kegiatan yang sebelumnya digelar di masing-masing kecamatan.
“Bahasa Banjar adalah jati diri dan warisan kita di Banua. Yang penting bukan hanya menang atau kalah, tetapi anak-anak berani tampil dan bangga menggunakan bahasa Banjar,” ucapnya.
Baca juga: Murakata Mendongeng HST Ajak 750 Anak Kenal Literasi Sejak Dini
Baca juga:ISPA di HST Tembus 24.601 Kasus hingga Juli, Dinkes Waspadai Kabut Asap Karhutla
Untuk jenjang SD, FTBI diikuti 110 peserta.
Mereka berkompetisi dalam lima kategori, yakni pidato bahasa Banjar, puisi bahasa Banjar, bakisah, bapantun, serta menulis cerita bahasa Banjar.
Melalui perlombaan tersebut, siswa tidak hanya dituntut mampu menggunakan bahasa Banjar, tetapi juga belajar tampil percaya diri, berekspresi dan mengenal kembali kekayaan bahasa daerahnya.
Anhar mengatakan bahasa ibu memiliki keterkaitan erat dengan jati diri, adat dan warisan masyarakat Banjar.
Oleh Karena itu, keberadaan bahasa daerah perlu terus diperkenalkan kepada anak-anak agar tetap digunakan oleh generasi berikutnya.
“Semoga kegiatan ini dapat terus berlanjut dan mudah-mudahan HST kembali mendapatkan anugerah revitalisasi bahasa daerah tingkat nasional,” harapnya.
FTBI merupakan bagian dari program revitalisasi bahasa daerah yang didukung pemerintah pusat.
Kegiatan serupa juga digelar pada jenjang SMP dengan jumlah peserta 108 siswa, sehingga keseluruhan peserta FTBI jenjang SD dan SMP mencapai 218 orang.
Staf Ahli Bupati HST Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Syahruli yang mewakili Bupati Samsul Rizal menilai bahasa ibu tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.