WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di kawasan Jalan Tambak Tarap, Landasan Ulin Utara, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (24/08/2026).

Warga setempat, Mat Saini, mengatakan kebakaran di sekitar permukiman tersebut baru terjadi pada hari ini. 

Namun, titik api di kawasan sekitar lokasi disebut telah berlangsung cukup lama dan terus menjalar di lahan gambut.

“Baru hari ini (kebakaran) di sini. Kalau yang di belakang sana sudah sekitar setengah bulanan,” kata Mat Saini saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, upaya pemadaman telah dilakukan secara maksimal oleh petugas, termasuk melalui operasi water bombing. 

Untuk titik kebakaran di sekitar lokasi tersebut, water bombing disebut telah dilakukan sekitar satu pekan terakhir.

“Kalau untuk pemadam dari water bombing, dari kemarin sudah berjibaku semaksimal mungkin. Tapi namanya api, tetap saja menjangkau, apalagi ini tanah gambut,” ujarnya.

Mat Saini juga mengakui akses menuju lokasi kebakaran menjadi salah satu kendala. Kondisi jalan yang sulit dijangkau, membuat petugas pemadam tidak mudah masuk hingga ke titik api.

Meski demikian, hingga Senin, lahan milik Mat Saini disebut masih dalam kondisi aman dan belum terdampak langsung kebakaran.

Baca Juga: Karhutla Kembali Landa Guntung Damar Banjarbaru, Petugas Gabungan Langsung Evakuasi Warga

Baca Juga: Kementerian Lingkungan Hidup Salurkan Bantuan untuk 300 Warga Terdampak Karhutla di Banjarbaru

Dampak yang paling dirasakan warga, kata dia, adalah asap pekat yang menyelimuti kawasan sekitar. 

Kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu kesehatan masyarakat, khususnya berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan.

“Dampaknya ya asap ini untuk warga sekitar. Bisa kena ISPA nanti,” katanya.

Ia berharap pemerintah dan pihak terkait tidak hanya mengandalkan water bombing dalam penanganan karhutla, terutama ketika kebakaran terjadi di lahan yang luas dan sulit dijangkau dari darat.

Menurutnya, langkah kesiapsiagaan perlu diperkuat dengan menyediakan sumur bor di sejumlah titik rawan kebakaran, sehingga sumber air dapat langsung digunakan ketika api muncul.