Kindingan Kreatif Festival Angkat Nasi Tampusing, Katuyung hingga Anyaman Bakul Arangan Jadi Potensi Warga HST
WARTABANJAR.COM, BARABAI – Nasi tampusing, humbal hingga katuyung mungkin belum familiar bagi banyak orang. Namun, tiga kuliner tersebut menjadi bagian dari kekayaan Desa Kindingan, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan.
Potensi kuliner khas itu bersama kerajinan anyaman bakul arangan dari bambu itu, diangkat dalam Kindingan Kreatif Festival yang digelar mahasiswa KKN Sosiologi FISIP ULM bersama masyarakat Desa Kindingan, Sabtu (22/08/2026).
Ketua Pelaksana Kindingan Kreatif Festival, Ainun Faridah, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan potensi lokal yang dimiliki Desa Kindingan.
“Tujuannya untuk menggerakkan ekonomi kreatif dan mengembangkan potensi lokal Desa Kindingan,” ujar Ainun.
Menurutnya, potensi yang dikenalkan dalam festival tidak hanya berupa makanan khas, tetapi juga kerajinan masyarakat berupa anyaman bakul arangan dari bambu.
Sejumlah kegiatan kemudian dikemas untuk mengenalkan potensi tersebut kepada masyarakat.
Di antaranya peluncuran kuliner khas desa, lomba memasak katuyung, lomba anyaman bakul arangan, dan lomba mewarnai bakul arangan untuk anak-anak.
Baca Juga: Mahasiswa Ajarkan Mengolah Sampah Organik Jadi Pupuk Cair di Hinas Kanan HST
Baca Juga: 120 Polisi Disiagakan Tangani Karhutla HST, Perkuat Patroli dan Pemantauan
Festival juga dimeriahkan penampilan musik panting dan tari kreasi anak-anak Kindingan, serta pameran bakul arangan dan produk UMKM lokal.
Ainun menjelaskan, nasi tampusing merupakan makanan khas Kindingan yang dibuat dari beras buyung dan santan.
Adonan kemudian dibungkus menggunakan daun bambu, dibentuk menyerupai segitiga kecil dan direbus.
Sementara humbal merupakan olahan nasi yang dibungkus menggunakan daun ririk untuk menghasilkan aroma khas, kemudian dimasak menggunakan bambu.
“Zaman dulu orang memiliki keterbatasan alat masak dan makan, lalu dimanfaatkan apa yang ada di alam berupa bambu tadi,” jelasnya.
Menurut Ainun, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali mengenal makanan dan kerajinan, yang menjadi bagian dari kehidupan warga Kindingan.
Antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya warga yang mengikuti berbagai rangkaian festival.