WARTABANJAR.COM, BARABAI – Sampah organik yang selama ini kerap terbuang begitu saja di lingkungan warga Desa Hinas Kanan, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), mulai dikenalkan sebagai bahan yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.

Pemanfaatannya diperkenalkan mahasiswa KKN Sosiologi FISIPOL ULM melalui pelatihan pembuatan pupuk organik cair, yang digelar di Desa Hinas Kanan, Minggu (23/08/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat mahasiswa KKN di Kecamatan Hantakan.

Pelatihan tidak hanya mengenalkan cara membuat pupuk, tetapi juga mengajak warga melihat kembali bahan-bahan organik yang ada di sekitar, sebagai sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN mendampingi warga mulai dari memilih bahan organik, menentukan perbandingan campuran hingga proses fermentasi pupuk sebelum digunakan.

Kegiatan turut menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) HST, untuk memberikan penjelasan mengenai pengelolaan limbah organik.

Kepala DLH HST H Mursyidi melalui Kepala Bidang Persampahan, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas DLH HST, Muhammad Fadillah, mengatakan pengolahan limbah organik menjadi pupuk sejalan dengan upaya mengurangi timbunan sampah di daerah.

Baca Juga: 120 Polisi Disiagakan Tangani Karhutla HST, Perkuat Patroli dan Pemantauan

Baca Juga: Karhutla 2 Hektare di Hantakan HST, Petugas Padamkan Api di Tengah Hutan Tanpa Sumber Air

Menurutnya, pemanfaatan limbah organik juga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, sekaligus mendukung kebutuhan pertanian masyarakat.

“Praktik ini murah, mudah diterapkan, dan berdampak ganda, tanah subur serta lingkungan bersih,” ujar Fadillah.

Ia menjelaskan, pengolahan bahan organik menjadi pupuk menjadi salah satu bentuk pemanfaatan sampah agar tidak seluruhnya berakhir sebagai timbunan.

Melalui pelatihan tersebut, warga juga diperkenalkan pada proses pembuatan pupuk organik cair, yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan organik di lingkungan sekitar.

Mahasiswa KKN kemudian mendampingi warga secara langsung selama praktik pembuatan, sehingga peserta tidak hanya memperoleh materi tetapi juga mencoba tahapan pembuatannya.