“Nah, jadi sampai 2 minggu ini harus kita apa, kita hajar api yang ada di sini,” tegasnya.

Sementara itu, Wamenko Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menjelaskan kondisi gambut di Guntung Damar memang membutuhkan penanganan dengan metode pembasahan.

Guntung Damar bersama Liang Anggang menjadi dua lokasi yang difokuskan untuk pembasahan gambut.

“Tadi kita lihat sama-sama dan cek tim, kita berdiri di atas hutan gambut atau kawasan gambut atau daerah gambut. Nah, ini memiliki kedalaman 1 meter sampai 3 meter,” ujar Hanif.

Kedalaman gambut tersebut membuat pembasahan menjadi bagian penting dalam proses penanganan.

Air harus dialirkan ke kawasan gambut agar lapisan yang masih menyimpan panas tidak kembali memunculkan bara.

“Ini penting sekali untuk dilakukan pembasahan,” katanya.

Untuk mendukung proses tersebut, masing-masing 100 unit pompa telah disiapkan di Guntung Damar dan Liang Anggang.

Pasokan air juga disiapkan melalui jaringan irigasi yang mengambil sumber dari Riam Kanan.

“Kita telah menyiapkan irigasi primer atau irigasi induk untuk dipenuhi air dari saluran irigasi Sultan Adam yang diambil dari Riam Kanan, masuk sampai sini hampir sekitar 3 kilometer,” jelas Hanif.

Jaringan tersebut kemudian diarahkan menuju lokasi yang menjadi sasaran pembasahan.

Di Guntung Damar dan Liang Anggang, pompa digunakan untuk membantu mengalirkan air ke lahan gambut.

“Dan Pak Gubernur telah bikin drainase sampai di lokasi Liang Anggang dan di sini di Guntung Damar. Kemudian masing-masing dideploy 100 unit pompa air,” katanya.

Hanif juga menyebut dukungan peralatan juga datang dari Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk membantu mengisi air dari jaringan irigasi menuju dua titik utama.

“BWS ada 4 pompa utama yang memiliki volume besar, yang mengisi dari irigasi Sultan Adam ke masing-masing kedua titik utama,” tutupnya. (wartabanjar.com)