Siram Jamas Resik Saliro, Tradisi Mandi Pengantin Jawa di Tabalong yang Masih Lestari
WARTABANJAR.COM, TANJUNG – Tradisi leluhur masyarakat Jawa di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, masih terus dilestarikan hingga kini.
Salah satunya adalah Siram Jamas Resik Saliro, yakni prosesi siraman atau mandi pengantin, yang menjadi simbol membersihkan dan menyucikan diri sebelum pasangan memasuki kehidupan rumah tangga.
Tradisi ini biasanya dilaksanakan menjelang kedua mempelai naik ke pelaminan. Prosesi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian adat pernikahan masyarakat Jawa, yang tinggal di Kabupaten Tabalong.
Menurut Mujiah, juru sembogo atau pemandu prosesi, Siram Jamas Resik Saliro memiliki makna yang erat dengan permohonan doa dan restu orangtua bagi kedua mempelai.
Air yang digunakan dalam prosesi siraman berasal dari tujuh sumber mata air yang berada di wilayah setempat. Air tersebut kemudian dicampur dengan air zamzam yang didatangkan dari Jazirah Arab.
Air dari tujuh sumber mata air terlebih dahulu dimasukkan ke dalam kendi. Selanjutnya, air dituangkan ke dalam bokor dan dicampur dengan bunga tujuh rupa serta gagar mayang.
Perpaduan air dari tujuh sumber mata air, air zamzam, bunga tujuh rupa, dan gagar mayang menjadi bagian penting dalam prosesi siraman.
Baca Juga: Polres Tabalong Tahan Warga Belimbing Raya Pembawa 25 Paket Sabu
Baca Juga: Festival Budaya Adat Dayak Maanyan Warukin di Tabalong Resmi Dibuka
Sebelum menjalani prosesi siraman, pengantin perempuan terlebih dahulu meminta doa dan restu kepada kedua orangtuanya.
Ia bersujud di hadapan ayah dan ibunya yang telah duduk di kursi. Setelah doa dibacakan, pengantin perempuan kemudian duduk di tempat yang telah disiapkan untuk menjalani prosesi siraman.
Prosesi tersebut berlangsung dengan penuh khidmat. Setelah pengantin perempuan selesai menjalani siraman, prosesi dilanjutkan dengan memandikan pengantin pria dengan tata cara yang sama.
Bagi masyarakat Jawa, siraman bukan sekadar prosesi membersihkan tubuh. Tradisi tersebut juga menjadi simbol kesiapan kedua mempelai untuk meninggalkan kehidupan sebelumnya dan memasuki kehidupan baru sebagai pasangan suami istri.