WARTABANJAR.COM - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali masif terjadi di Pulau Kalimantan saat ini.

Tak hanya masyarakat seluruh provinsi Kalimantan, dampak asapnya juga dirasakan warga negara tetangga.

Dikabarkan, Malaysia sampai meliburkan 591 sekolah di negara bagian Sarawak.

Karhutla disertai kabut asap hampir tiap tahun terjadi Kalimantan.

Namun ada tiga masa karhutla yang terparah bahkan disebut-sebut sebagai bencana lingkungan besar di Indonesia, yakni pada 1997, 2015 dan 2019.

Bagaimana tahun ini, akankah Karhutla 2026 mengulang masa-masa kelam itu?

Baca Juga:  Ada 924 Titik Panas di Kalsel, Berpotensi Kabut Asap

Baca Juga: Atasi Karhutla, 5 Pesawat TNI AU Diberangkatkan ke Kalbar dan Kaltim

1. Karhutla 1997

Banyak ahli dan berbagai kalangan yang menyebut karhutla di Kalimantan pada 1997 hingga 1998 merupakan salah satu bencana lingkungan terbesar di Asia Tenggara pada abar ke-20. 

Jutaan hektare hutan dan lahan terbakar. Kabut asap menyelimuti banyak daerah bahkan negara tetangga selama beberapa bulan

Diduga penyebabnya adalah El Niño yang mengakibatkan curah hujan turun drastis sehingga vegetasi dan lahan gambut mengering.

Tragisnya, Center for International Forestry Research (CIFOR) mengungkap, sebagian besar titik api justru berasal dari aktivitas manusia.

Mereka melakukan pembukaan lahan menggunakan metode pembakaran untuk perkebunan dan pertanian.

Diperkirakan seluas 5 juta hektare kawasan di Kalimantan terbakar terutama di Kaltim, Kaltenhg dan Kalbar. 

2. Karhutla 2015

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pernah menyatakan 2,6 juta hektare lahan dan hutan diamuk api pada Karhutla 2015.

Tragisnya, disebutkan pula ada puluhan korban jiwa dan ratusan ribu kasus gangguan pernapasan atau ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

Aktivitas warga Kalimantan seakan lumpuh. Dampaknya ekonomi juga mengerikan, mencapai ratusan triliun rupiah. 

Bahkan, sempat terjadi ketegangan diplomatik dengan negara lain yang terdampak kabut asap.

Sejumlah lembaga kajian mengungkap penyebah karhutla 2015 ini Sebagian karena aktivitas manusia. 

Mereka melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar karena dianggap murah dan cepat, baik oleh perusahaan maupun petani kecil.