Ponpes Darul Hijrah Martapura Banjar Konsisten Kirim Wakil Paskibraka hingga Nasional
WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Di lingkungan pondok pesantren, aktivitas santri tak hanya berkutat pada kegiatan keagamaan.
Di Pondok Pesantren Modern Darul Hijrah Martapura, Paskibra menjadi salah satu ruang bagi santri untuk mengasah kedisiplinan, kemampuan, sekaligus pengalaman tampil.
Tradisi itu bahkan sudah berjalan cukup lama, dan terus melahirkan santri yang mewakili Darul Hijrah dalam seleksi Paskibraka, mulai tingkat Kabupaten Banjar hingga nasional.
Salah satunya Muhammad Shadam Ensu Asyathir yang terpilih menjadi Paskibraka Kabupaten Banjar 2026.
Shadam merupakan santri SMA Darul Hijrah Putra. Ia mulai mengikuti ekstrakurikuler Paskibra sejak duduk di kelas 2 SMP pada 2023.
Sejak awal, Shadam sudah mengetahui bahwa saat memasuki jenjang SMA akan ada kesempatan mengikuti seleksi Paskibraka.
“Iya, dari tahun 2023 saya tahu kalau nanti di kelas 1 SMA itu akan ada Paskibraka, jadi saya ikut Paskibra dari kelas 2 SMP untuk mengasah kemampuan,” ujarnya saat diwawancara, Senin (17/08/2026).
Bekal tersebut kemudian dibawanya saat mengikuti seleksi Paskibraka Kabupaten Banjar.
Menurut Shadam, tahapan seleksi yang dijalani cukup menantang, mulai dari Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), jasmani hingga wawancara.
Baca Juga: Warga Desa Pesayangan Martapura Panik, Karhutla Kepung Permukiman
Baca Juga: Paskibraka Banjar Sukses Kibarkan Bendera, Danton dan Pembawa Baki Ungkap Rasa Gugup Jalankan Tugas
“TWK itu cukup sulit walaupun semuanya cukup sulit, tapi cukup dengan berlatih dan belajar, itu akan terasa lebih mudah,” katanya.
Di lingkungan pondok, Shadam juga mendapat dukungan ketika harus mengikuti berbagai rangkaian persiapan setelah terpilih.
Dukungan itu termasuk ketika dirinya perlu keluar pondok untuk keperluan persiapan, hingga menjalani karantina Paskibraka.
“Dukungannya seperti dibantu semuanya intinya, dibantu semuanya oleh pondok,” ungkapnya.
Shadam mengatakan, dirinya juga tidak merasa memiliki beban khusus, ketika membawa nama pondok pesantren dalam tugas sebagai Paskibraka.
Baginya, pengalaman menjadi Paskibraka justru menjadi kesempatan untuk berkembang bersama teman-teman lainnya, tanpa melihat latar belakang sekolah maupun pondok.