Ponpes Darul Hijrah Martapura Banjar Konsisten Kirim Wakil Paskibraka hingga Nasional
“Iya, disamakan aja. Alhamdulillah pengalaman yang rasakan saya itu yang harus disyukuri,” katanya.
Perjalanan Shadam ternyata tidak berdiri sendiri. Di Darul Hijrah, kegiatan Paskibra sudah menjadi bagian dari pembinaan santri, dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pembina Paskibra Darul Hijrah, Sadam Husein Arif Sabily, mengatakan sejak 2008 pihaknya konsisten mengirimkan perwakilan untuk mengikuti Paskibraka, minimal di tingkat Kabupaten Banjar.
“Sampai sekarang di 2026, kita selalu konsisten mengirim perwakilan minimal di tingkat kabupaten, bahkan sampai ke tingkat nasional,” ujarnya.
Pada 2026 sendiri, SMA Darul Hijrah mengirim tiga perwakilan. Dua santri, yakni Muhammad Shadam Ensu Asyathir dan Nurul Annisa, mengikuti Paskibraka tingkat Kabupaten Banjar.
Sementara lainnya adalah Ramadani Haikal Nur Fadilah, yang menjadi perwakilan ponpes di tingkat Provinsi Kalimantan Selatan.
Tradisi tersebut juga telah membawa santri Darul Hijrah hingga ke tingkat nasional.
Sadam mencatat, sudah empat kali Darul Hijrah mengirim perwakilan ke tingkat nasional, yakni pada 2011, 2013, 2017 dan 2021.
“Semoga itu bukan jadi yang terakhir, nanti ke depannya ada lagi kayak gitu,” harapnya.
Bagi Sadam, status Darul Hijrah sebagai pondok pesantren bukan menjadi penghalang bagi santri yang ingin mengikuti Paskibra.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan aktivitas positif, yang tetap dapat dijalankan tanpa menyalahi norma yang berlaku di lingkungan pondok.
“Kegiatan yang sudah sewajarnya berjalan tidak menyalahi norma apa pun,” jelasnya.
Dukungan terhadap Paskibra juga diberikan sejak santri baru masuk ke pondok. Sadam membeberkan, setiap murid baru sudah diperkenalkan dengan latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB).
“Jadi untuk setiap murid baru yang masuk ke Darul Hijrah pasti sudah pernah mengikuti latihan PBB,” ucapnya.
Dari sana, potensi santri mulai dilihat dan dikembangkan. Sistem pembinaan kemudian berjalan, dengan melibatkan anggota yang sebelumnya telah terpilih menjadi Paskibraka.
Sadam menjelaskan, para senior tersebut nantinya bertanggung jawab membina adik kelas, sedangkan guru berperan sebagai pembina sekaligus quality control, untuk memastikan materi dan standar latihan tetap sesuai.