Namun, kedua langkah tersebut memerlukan prosedur dan pertimbangan yang matang.

“Untuk water bombing dan modifikasi cuaca, kita masih melihat situasi jika memang terpaksa. Karena ini memerlukan prosedur ketat,” ujar H. Rahmi.

Di tengah ancaman api, persoalan lain juga mulai muncul, yakni potensi kekeringan dan berkurangnya ketersediaan Air bersih.

BPBD mencermati penurunan debit air di wilayah hulu yang mulai berdampak terhadap kondisi sungai.

“Terkait potensi kekeringan, memang kita menyadari di daerah hulu debit air mulai menipis. Sungai kita mulai dangkal, sehingga potensi kekeringan dan ketersediaan air bersih ini tetap jadi perhatian. Kami juga berkoordinasi dengan PDAM dengan melakukan bendung-bendung sungai untuk ketersediaan air bersih,” jelasnya.

Situasi tersebut membuat kesiapsiagaan tidak hanya diarahkan pada penanganan kebakaran, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi apabila kekeringan semakin meluas. (Wartabanjar.com/Fikri/*).