Arab Saudi Gelap di Siang Hari Tahun Depan, Sejarah setelah 77 Tahun
WARTABANJAR.COM - Mata dunia bakal tertuju ke Arab Saudi pada tahun depan.
Negara yang tiada hari tanpa kedatangan Jemaah umrah dari berbagai negara ini, akan bertambah jumlah pengunjungnya pada 2 Agustus 2027 mendatang.
Mereka ingin melihat dan merasakan secara serta menjadi sejarah terjadinya fenomena alam setelah 77 tahun terakhir.
Arab Saudi akan gelap meskipun tidak lama, pada siang hari.
Kejadian langka itu dikarenakan terjadinya gerhana matahari total.
Dan, Arab Saudi menjadi salah satu lokasi terbaik untuk menyaksikan proses fenomena tersebut.
Tak hanya para astronom, seperti dirilis Gulf News, para "pemburu" gerhana dari banyak negara sudah menyatakan akan berdatangan ke Arab Saudi.
Mereka adalah ilmuwan, fotografer, hingga wisatawan astronomi.
Disebutkan, gerhana matahari total ini menjadi kali pertama di Arab Saudi sejak 1952.
Saat itu, masyarakat menyebutnya sebagai Year of Darkness atau Tahun Kegelapan karena langit berubah gelap di siang hari ketika Bulan menutupi seluruh piringan Matahari.
Baca Juga: Sempat Telantar, 38 Jemaah Umrah HST dan Tabalong Pulang Difasilitasi Anggota DPR
Baca Juga: Hasil Laga Pramusim: Chelsea Dibungkam Spurs, Arsenal Pesta Gol Berkat "Messi Muda"
Kepala Jeddah Astronomical Society, Majed Abu Zahra mengatakan jalur totalitas gerhana akan dimulai dari pesisir Laut Merah sebelum melintasi sejumlah kota besar di Arab Saudi bagian barat dan barat daya, termasuk Makkah, Jeddah, Taif, Al Baha, Al Qunfudhah, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran.
Sementara wilayah lain di Arab Saudi tetap dapat menyaksikan gerhana matahari sebagian dengan tingkat penutupan Matahari yang berbeda-beda.
Majed Abu Zahra mengatakan bahwa selama fase totalitas, kondisi siang hari akan berubah menyerupai senja.
Seiring itu, suhu udara diperkirakan turun secara signifikan, sementara korona Matahari-lapisan atmosfer terluar Matahari-akan terlihat jelas bersama beberapa bintang dan planet.
"Cahaya siang akan meredup menyerupai suasana senja selama fase totalitas. Fenomena ini disertai penurunan suhu yang terasa, kemunculan korona Matahari, serta terlihatnya beberapa bintang dan planet di langit," ucapnya.