Nilai itu dikenal melalui falsafah kayuh baimbai. Maknanya menekankan kerja bersama masyarakat Banjar. 

Kondisi monumen memang telah menurun. Beberapa bagian terlihat lusuh dan tertutup tanaman. 

Namun, kerusakan tidak otomatis membenarkan penghancuran. Dewan Kesenian menawarkan pendekatan berbeda. 

Pemerintah seharusnya melakukan perawatan dan konservasi. Monumen lama dapat disatukan dengan rancangan baru. 

Pendekatan tersebut tidak menghalangi pembangunan. Konservasi justru menjaga kesinambungan sejarah. Kota dapat berubah tanpa menghapus seluruh peninggalannya.

Persoalan utama bukan hanya hilangnya bangunan. Proses pengambilan keputusan juga dipersoalkan. 

Seniman dan budayawan tidak dilibatkan sejak awal. 

Pemerintah dinilai tidak membuka dialog dengan kalangan seni. Pakar estetika kota juga tidak dilibatkan.

Ketiadaan dialog menghasilkan kesalahan penilaian. Bangunan bersejarah diperlakukan seperti elemen taman biasa. 

Nilai penciptanya tidak masuk pertimbangan utama. Pemerintah juga belum menjelaskan kajian konservasinya. 

Melalui Pernyataan Sikap Nomor 045/DK-Bjm/VII/2026, Dewan Kesenian menuntut 4 hal:

Pertama, pemerintah diminta menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat Banjarmasin dan Misbach Tamrin. 

Kedua, Dewan Kesenian mengkritik ketiadaan dialog publik. 

Ketiga, pemerintah diminta menghadirkan bentuk penghormatan baru. Penghormatan itu harus mengenang karya Misbach Tamrin. 

Keempat, pemerintah didesak menyusun komitmen tertulis. Regulasi perlindungan karya seni publik juga dibutuhkan. 

Dewan Kesenian menegaskan tidak menolak pembangunan Taman Bamara. Mereka juga tidak menolak modernisasi kota. Kritik diarahkan kepada cara pembangunan dilakukan.

Riwayat gerbang Antasari memiliki ironi tersendiri. Kelahirannya pernah dipersoalkan karena identitas penciptanya. Kehilangannya dipersoalkan karena identitas itu diabaikan. 

Pada 1985, Misbach menghadapi stigma politik. Karyanya dicurigai membawa gagasan komunisme. Pada 2026, karya tersebut hilang melalui penataan kota. 

Dahulu, pemerintah mempertahankan pembangunan gerbang. Pemerintah bahkan menunjuk Budi Santoso sebagai pendamping.

Sekarang pemerintah justru meratakan monumennya. Peristiwa itu juga membuka perdebatan baru. 

Perdebatan menyangkut makna kemajuan bagi Banjarmasin. Pembangunan tidak hanya menghasilkan bangunan baru. Pembangunan juga menentukan warisan yang dipertahankan.