Opini Sejarawan ULM Dr Mansyur tentang Polemik Pembongkaran Monumen Karya Misbach Tamrin di Banjarmasin
Misbach dan Budi akhirnya membangun hubungan persahabatan. Kontroversi tidak menghentikan penyelesaian gerbang.
Bangunan itu kemudian menjadi bagian penting wajah Banjarmasin.
Gerbang Selamat Datang masih berdiri hingga sekarang. Bangunan itu menjadi salah satu penanda kawasan Banjarmasin Tengah.
Bentuknya masih mempertahankan unsur budaya Banjar. Sebagian relief masih dapat terlihat dengan cukup jelas.
Namun, tanaman mulai menutupi bagian bawah bangunan. Kondisi tersebut mengurangi keterlihatan relief.
Gerbang ini memiliki nilai sejarah dan artistik. Bangunan itu mencatat perkembangan seni publik Banjarmasin.
Ia juga mencerminkan hubungan budaya dengan kekuasaan. Sejarah gerbang tidak hanya berbicara tentang arsitektur.
Sejarahnya juga mencatat stigma terhadap mantan tahanan politik. Karya seni dinilai melalui identitas pembuatnya.
Tuduhan politik pernah mengiringi proses pembangunannya. Namun, gerbang tetap selesai dan digunakan masyarakat.
Unsur budaya Banjar tetap menjadi dasar desainnya. Gerbang Antasari menjadi saksi perjalanan Kota Banjarmasin.
Bangunan itu merupakan bagian sejarah sosial Banjarmasin. Kisah para pembuatnya layak dicatat dan dipelihara.
Bangunan itu bukan sekadar penanda jalan. Bentuknya memuat berbagai unsur kebudayaan Banjar. Relief panjang menggambarkan kehidupan masyarakatnya.
Saat ini bangunan itu kembali menghadapi persoalan. Bukan lagi tuduhan politik seperti saat pendiriannya.
Kini, ancaman datang melalui penataan ruang kota melalui program Taman Kota Bamara (Banjarmasin Maju Sejahtera).
Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin menggagas program tersebut. Pemerintah bahkan mengadakan sayembara desain pada Mei hingga Juni 2025.
Program itu bertujuan memperindah dan merapikan ruang publik.
Namun, pelaksanaan proyek menimbulkan persoalan. Monumen pada kawasan gerbang diratakan selama penataan taman.
Sejumlah media menyebutnya Monumen Taman Gerbang Kota. Media lain menyebutnya Monumen Kayuh Baimbai.
Pembongkaran itu menghapus bagian penting kawasan bersejarah tersebut.
Dewan Kesenian Banjarmasin menolak pandangan bahwa monumen hanyalah ornamen. Monumen itu dianggap bagian sejarah estetika Banjarmasin.
Karya tersebut juga menyimpan ingatan tentang Misbach Tamrin. Menurut Dewan Kesenian, monumen menggambarkan semangat gotong royong.