WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Seluas 654,99 atau hampir 655 hektare lahan di Kalsel terbakar hanya dalam Waktu 13 hari, 14-27 Juli 2026.

Tak hanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tercatat sebanyak 261 kejadian, dalam rentang Waktu itu juga dideteksi sebanyak 1.268 titik api atau hotspot di seluruh wilayah Kalsel.

Bahkan, berdasar data di Badan Penangguangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, karhutla masih terus terjadi dan mengancam seiring berlangsungnya musim kemarau.

Diungkapkan Kepala BPBD Kalsel, Rony Eka Saputra, Kota Banjarbaru adalah daerah dengan jumlah karhutla terbanyak yakni 87 kejadian.

Di ibu kota provinsi ini, luas lahan terdampak karhutla adalah 230,27 hektare de ngan 46 hotspot.

"Selanjutnya Kabupaten Banjar dengan 36 kejadian dengan luas lahan terdampak 121,7 hectare. Hotspot di daerah ini terbanyak yakni 199 titik," ucap Rony Eka Saputra, Selasa (28/7/2026).

Baca Juga: Kabinda Kalsel Cek Generator Rusak di PLTU Asam Asam, PLN Target 25 Agustus 2026 Stop Pemadaman Bergilir

Baca Juga: Karhutla dan Kekeringan Mengancam, Pemkab Banjar Tetapkan Status Siaga Darurat Hingga 30 September 2026

Selanjutnya adalah Tanah Laut sebanyak 45 kejadian dengan luas terdampak 156,31 hectare.

Diikuti Hulu Sungai Selatan 27 kejadian seluas 47,45 hektare, Tapin 18 kejadian seluas 32,34 hektare, serta Hulu Sungai Tengah 7 kejadian dengan luas terdampak 20,5 hektare.

Kemudian Hulu Sungai Utara mencatat 9 kejadian dengan luas 13,56 hektare, Tanah Bumbu 7 kejadian seluas 8,5 hektare, Balangan 5 kejadian seluas 4,21 hektare, Kotabaru 5 kejadian seluas 4,5 hektare, Tabalong 4 kejadian seluas 4,1 hektare, dan Barito Kuala 9 kejadian dengan luas lahan terdampak 11,5 hektare.

Bagaiamana dengan Kota Banjarmasin? Di daerah ini ada 2 kejadian dengan luas lahan terdampak sekira 0,05 hektare.

Berdasar data tersebut, Rony mengharapkan masyarakat selalu meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.

Kondisi lahan yang kering membuat api berpotensi cepat meluas, terutama apabila kebakaran tidak segera ditangani.

Untuk mengantisipasi meluasnya karhutla, dilakukan penanganan melalui operasi darat dan udara, termasuk water bombing di kawasan yang dinilai membutuhkan penanganan cepat.

Pemprov Kalsel mendapatkan bantuan helikopter dan satu pesawat dari BNPB.

Rinciannya, satu helikopter patroli, satu pesawat patroli dan tiga helikopter water bombing.