Dengan mekanisme ini, dikutip dari Makeuseof, ponsel tidak akan membiarkan aplikasi yang tidak dipakai atau berada di latar belakang untuk memengaruhi kinerjanya.

Jadi, ponsel bisa beristirahat memproses aplikasi-aplikasi yang ada di latar belakang. Dengan begitu, aplikasi latar belakang yang tidak diproses tak akan mengonsumsi daya.

Apa yang terjadi jika menghentikan aplikasi latar belakang? Menutup aplikasi background sebenarnya malah memiliki efek yang sebaliknya, yakni berpotensi membuat baterai menjadi lebih boros.

Saat aplikasi background ditutup total dan dibuka kembali, prosesor perlu bekerja lebih ekstra untuk bisa memuat atau memprosesnya dari awal.

Padahal, aplikasi di latar belakang bisa mempersingkat proses loading dari prosesor tersebut. Dengan beban kinerja yang lebih ekstra, baterai ponsel bakal lebih cepat habis.

Membiarkan aplikasi di latar belakang justru bisa mempercepat pengguna untuk mengaksesnya. Ponsel bisa langsung memuat aplikasi di latar belakang dengan cepat, karena tidak perlu menjalankan proses loading dari awal.

Dengan dampak tersebut, pengguna tidak perlu menutup aplikasi di latar belakang terus menerus dengan harapan bisa membuat baterai lebih hemat.

Kapan harus menutup aplikasi di latar belakang? Ada beberapa kondisi yang memungkinkan pengguna buat menghapus aplikasi background.

Salah satu kondisi adalah ketika aplikasi macet atau mengalami gangguan. Pengguna bisa menutupnya secara total, dan membukanya kembali untuk menyegarkan sistem aplikasi yang mengalami gangguan.

Kemudian, pengguna juga bisa menutup aplikasi yang dapat terus berjalan di latar belakang jika sudah tidak digunakan.

Aplikasi ini misalnya aplikasi peta dan navigasi yang dapat mengakses fitur GPS terus menerus.

Selain itu, pengguna juga bisa menutup aplikasi di latar belakang untuk aplikasi yang benar-benar tidak dipakai.

Tujuannya agar halaman latar belakang tidak terlalu bertumpuk aplikasi sehingga membingungkan buat dilihat. (Wartabanjar.com)