Budidaya Melon Golden di Tabalong, 50 Hari Bisa Panen dengan Harga Rp25 Ribu per Kilogram
WARTABANJAR.COM, TANJUNG – Budidaya melon golden di Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan, menunjukkan peluang ekonomi yang cukup menjanjikan meski dikembangkan di lahan terbatas.
Hal itu terlihat dari kebun percontohan TP PKK Kabupaten Tabalong yang mengembangkan sekitar 300 tanaman.
Setiap tanaman ditargetkan menghasilkan dua melon dengan bobot rata-rata sekitar 2 kilogram.
Dengan asumsi tersebut, produksi diperkirakan mencapai 600 buah atau sekitar 1,2 ton.
Jika seluruh hasil panen dijual dengan harga sekitar Rp25.000 per kilogram, nilai penjualan berpotensi mencapai Rp30 juta.
Kepala UPTD BBTPH DKP3 Tabalong, Yana Mulyana, mengatakan melon golden memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan jenis melon lainnya, terutama dari sisi rasa dan harga jual.
“Keunggulannya melon golden ini memiliki rasa yang lebih manis daripada melon yang lain dan ada rasa harum-harumnya. Serta harga jualnya tinggi,” kata Yana.
Menurut Yana, harga melon biasa umumnya berada di kisaran Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Sementara harga melon golden dapat mencapai sedikitnya Rp25 ribu per kilogram.
Baca juga: PKK Tabalong Kembangkan Melon Golden di Lahan Kurang Produktif
Selain memiliki nilai jual lebih tinggi, melon golden juga dinilai cukup adaptif terhadap kondisi cuaca panas.
Meski demikian, kebutuhan air tetap harus diperhatikan, terutama ketika tanaman mulai memasuki fase pembentukan buah.
“Kalau dari sisi kondisi panas cukup tahan, tetapi air harus cukup, terutama ketika buah mulai terbentuk,” ujarnya.
Bisa Panen 50 Hari
Yana mengatakan, salah satu keunggulan lain melon golden adalah masa budidayanya yang relatif singkat.
Tanaman melon golden dapat dipanen sekitar 50 hari setelah ditanam. Waktu panen yang relatif cepat tersebut dinilai membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan komoditas ini sebagai alternatif usaha hortikultura.
Budidaya melon golden juga dinilai cocok untuk pemanfaatan lahan pekarangan.
“Jadi ini bisa menjadi contoh bahwa lahan yang terbatas juga dapat dimanfaatkan untuk budidaya yang memiliki nilai ekonomi,” kata Yana.