Kenaikan biaya juga terjadi di segmen premium. Pada smartphone dengan harga di atas 800 dollar AS (sekitar Rp 14,3 juta), kontribusi biaya memori meningkat dari sekitar 11 persen menjadi 26 persen.

Meski demikian, dampaknya lebih terasa di segmen entry-level karena ruang untuk memangkas biaya komponen lain sudah semakin terbatas, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari halaman resmi Omdia.

Untuk menekan biaya produksi, vendor mencoba menghemat komponen seperti panel layar, sensor kamera, hingga modul frekuensi radio (RF).

Namun, strategi ini dinilai semakin sulit diterapkan pada smartphone murah karena struktur biayanya sudah sangat ketat.

Secara keseluruhan, Omdia memperkirakan pasar smartphone global akan menyusut sekitar 12 persen pada 2026.

Penurunan ini terutama dipicu melemahnya permintaan di segmen smartphone dengan harga di bawah 400 dollar AS.

Sebaliknya, pengiriman smartphone dengan harga di atas 400 dollar AS diproyeksikan masih tumbuh sekitar 5,7 persen.

Menurut Omdia, tren tersebut dipengaruhi oleh pergeseran strategi produsen yang kini lebih fokus mengembangkan smartphone kelas menengah dan premium.

Konsumen di segmen tersebut juga dinilai lebih mampu menerima kenaikan harga.

Selain itu, produsen masih memiliki beberapa opsi untuk menekan biaya produksi perangkat premium, misalnya menggunakan panel OLED LTPS sebagai pengganti LTPO pada model tertentu, memakai sensor kamera berukuran lebih kecil, atau memanfaatkan chipset generasi sebelumnya tanpa mengurangi daya tarik produk secara signifikan. (Wartabanjar.com)