Wilayah Kematian Massal Ikan di Banjar Meluas, 200 Karamba Rusak Kerugian Rp1,3 Miliar
WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Tak hanya di aliran Sungai Martapura, wilayah kematian ikan secara massal di Kabupaten Banjar dikabarkan meluas.
Bila sebelumnya terjadi di Kawasan Desa Mali Mali dan Sungai Arfat Kecamatan Karang Intan serta Desa Pingaran Ilir dan Pingaran Ulu Kecamatan Astambul yang kesemuanya berada di aliran Sungai Martapura, kini kondisi serupa terjadi di kawasan budidaya aliran Sungai Riam Kanan.
Jenis ikan yang terbanyak mengalami kematian massal ini adalah bawal dan nila, yang diperkirakan mencapai 50 ton.
Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Banjar memperkirakan kerugian yang dialami para pembudidaya ikan akibat musibah ini sekira Rp1,3 miliar.
Selain itu, setidaknya 200 karamba jala apung juga mengalami kerusakan.
Kabid Perikanan Budidaya DKPP Banjar, Bandi Chairullah mengatakan secara umum, kematian massal ikan ini dikarenakan musim kemarau ekstrem.
Selain itu, beradar hasil pemantauan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO) di perairan hanya berkisar 0,59 hingga 1 ppm.
Baca Juga: Ikan Mati Massal di Keramba Sungai Martapura Kabupaten Banjar
Baca Juga: Warga Aranio Kabupaten Banjar Temukan Granat Nanas Peninggalan Perang Kemerdekaan
Angka tersebut jauh di bawah kondisi ideal bagi kehidupan ikan.
Akibatnya, ikan kesulitan bernapas, membuatnya mengapung ke permukaan, lalu mati.
“Kami telah meminta pembudidaya segera memanen atau mengangkat ikan untuk mengurangi kerugian,” ucapnya, Senin (13/7/2026).
Selain itu, DKPP Banjar juga menyarankan dilakukan aerasi dengan menyemprot air ke permukaan atau memindahkan ikan ke kolam darat dan kolam terpal yang memiliki suplai oksigen.
Menurut Bandi, DKPP Banjar pada April 2026 lalu telah mengirimkan peringatan dini kepada para pembudidaya ikan
Selain menginformasikan kemungkinan dampak kemarau ekstrem, mereka juga menyarankan para pembudidaya melakukan langkah-langkah preventif terkait penurunan kualitas air.
Bandi juga mengharapkan para pembudidaya yang terdampak kematian massal itu tidak membuang bangkai ikan ke sungai.
Pasalnya, tindakan itu dapat berdampak pada terjadnya pencemaran yang mengurangi kualitas air di wilayah hilir. (wartabanjar.com/san)