Stankovic tidak ragu mengakui bahwa Chivu memiliki pengaruh yang sangat mendalam, bagi perkembangan mental dan kemampuannya di lapangan hijau.

Dia selalu mengingat bagaimana Chivu membimbingnya sejak masih anak-anak hingga siap masuk ke level sepak bola profesional yang sesungguhnya.

“Dia memberikan dampak yang sangat besar dalam karier saya. Dia merangkul saya saat saya masih sangat muda di Primavera, dan baru memulai langkah di sepakbola serius,” kenang Stankovic.

“Dia mengajari banyak hal, baik di dalam maupun di luar lapangan, membantu saya memahami esensi sepak bola yang sebenarnya. Pada akhirnya, yang dinilai adalah apa yang mampu Anda tunjukkan di lapangan jika ingin menang,” sambungnya.

Nama Stankovic sendiri bukanlah nama yang asing di telinga para pendukung setia Inter Milan. Aleksandar merupakan putra kandung dari legenda hidup Inter, Dejan Stankovic.

Sang ayah tercatat menghabiskan waktu selama sembilan tahun di San Siro, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari skuat legendaris peraih treble winner, di bawah asuhan Jose Mourinho pada musim 2009-2010 silam.

Menariknya, Aleksandar mengungkapkan bahwa sang ayah justru menjadi sosok yang paling antusias dan tidak sabar melihatnya beraksi dengan seragam Inter.

“Ayah mungkin jauh lebih bersemangat daripada saya sendiri, begitu juga dengan ibu dan saudara-saudara saya. Bagi kami, sebagai keluarga yang seluruhnya adalah pendukung Inter, memiliki seorang ayah yang bermain dan memenangkan segalanya di sini, momen ini benar-benar mimpi yang jadi kenyataan. Kami semua sangat bahagia, dan saya yakin ayah sangat bangga pada saya,” tutur Aleksandar penuh emosional.

Bicara soal masa adaptasi, Stankovic merasa tidak membutuhkan waktu lama untuk menyatu kembali dengan tim. Kedekatannya dengan sejumlah pilar utama Inter menjadi keuntungan tersendiri.

Dia menyebut nama bek sayap andalan, Federico Dimarco, serta striker muda, Pio Esposito sebagai sosok yang sudah dianggapnya seperti saudara kandung sendiri.