​Suntikan dana asing tersebut disalurkan melalui Youth Empowerment Fund yang dikelola secara kolaboratif oleh Global Youth Mobilization bersama Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC).

​"Yang paling penting bukan besar kecilnya dana yang diterima, tetapi kepercayaan yang diberikan kepada PMI Kabupaten Tanah Laut. Ini adalah prestasi sekaligus tanggung jawab yang harus kita jalankan dengan baik," papar Syahrian.

​Ia menambahkan, wilayah Kalimantan yang berstatus sebagai salah satu paru-paru dunia saat ini berada di bawah bayang-bayang ancaman deforestasi yang masif.

Melalui Green Camp, para peserta diharapkan mampu berdiri di garda terdepan sebagai penggerak masyarakat dalam menjaga keutuhan hutan.

​Project Leader Green Alpha Challenge, Martini, mengungkapkan bahwa program inovasi ini berhasil lolos seleksi ketat pendanaan Uni Eropa setelah bersaing dengan hampir 10.000 draf proposal dari berbagai belahan dunia.

Proses seleksi dimulai dari kompetisi menulis Surat untuk Bumi, dilanjutkan dengan kampanye digital di media sosial.

​Tahapan tersebut menyaring sekitar 100 karya dari PMR dan KSR se-Kalimantan, hingga akhirnya menyisakan 20 inovator terbaik dari Provinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur untuk dikarantina di Green Camp sejak tanggal 3 hingga 5 Juli 2026.

BACA JUGA: Nakhodai HIPMI Tanah Laut, Evan Zachari Siap Akselerasi Ekonomi Sektoral

BACA JUGA: Menuju Era Baru Kolaborasi Pengusaha Muda, Estafet Kepengurusan HIPMI Tanah Laut Resmi Berganti

​Selama masa karantina di Kecamatan Bajuin, puluhan pemuda itu dibekali materi kepemimpinan, manajemen kampanye digital, formulasi inovasi lingkungan, serta penguatan jejaring kolaborasi antardaerah.

Program ini sukses terselenggara atas sinergi multipihak, termasuk Kepolisian Resor Tanah Laut, BPBD, Dinas Pariwisata, PMI Provinsi Kalsel, unsur pemerintah kecamatan dan desa setempat, serta organisasi kepemudaan. (Wartabanjar.com/Gazali)

Editor: Yayu