Soroti Risiko Penyakit Menular, Pelajar Islam Kalsel Desak Pemerintah Serius Tangani Fenomena LGBT
WARTABANJAR.COM, PELAIHARI - Puluhan massa dari Pelajar Islam Indonesia (PII) Kalimantan Selatan menggelar aksi moral untuk menyuarakan keresahan sekaligus menolak keras normalisasi perilaku LGBT di Bundaran Simpang Gagas, Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan pada Jumat (3/7/2026).
Aksi yang bertepatan dengan pelaksanaan pelatihan wilayah ini sengaja dipusatkan di lokasi strategis guna mendesak instansi terkait agar mengambil langkah konkret.
PII menilai fenomena penyimpangan seksual di kalangan remaja saat ini sudah sangat mengkhawatirkan namun sering dianggap sepele oleh lingkungan masyarakat sekitar.
Koordinator lapangan sekaligus Pengurus Wilayah PII Kalsel, Syahdan, menegaskan bahwa fenomena ini menjadi ancaman serius karena gerakannya yang bersifat terselubung dan sulit diidentifikasi secara kasat mata.
"Sebab, kegiatan LGBT itu adalah kegiatan yang sangat sulit untuk dideteksi. Jikalau kayak sekarang lagi marak kekerasan seksual, hal tersebut enak di apa namanya dideteksi. Sedangkan LGBT ini menjadi kasus yang susah diungkap, sebab mereka itu sesama jenis, minat, itu pun tidak ketahuan," ujar Syahdan.
Baca Juga Keutamaan Surat At-Taubah 128-129, Mudahkan Segala Hajat
Baca Juga Warga Kalsel dan Kalteng Terdampak Pemadaman Listrik Bisa Dapat Diskon
Ia menambahkan bahwa dampak dari pembiaran normalisasi perilaku menyimpang ini sangat nyata, terutama menyangkut kesehatan fisik dan mental generasi muda di lingkungan sekolah yang rentan tertular penyakit seksual.
"Kami sebagai pelajar melihat orang yang di sekitar kami yang biasanya terlihat tampangnya mengerikan, tampang yang lebih kayak tokoh, kuat gitu pun bisa menjadi orang yang penyebar HIV. Mereka memiliki penyakit-penyakit menular seksual," lanjut Syahdan.
Melalui aksi damai ini, massa menuntut pemerintah daerah dan Forkopimda untuk memperketat pembinaan moral remaja. Dampak penyebaran di dunia maya juga harus ditekan secara nyata dengan memfilter konten-konten media sosial yang dianggap tidak pantas demi menyelamatkan masa depan generasi bangsa. (Wartabanjar.com/Gazali).
Editor Restu