Menurut dia, gangguan bermula dari masalah operasional pada salah satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) di Kalteng.

Gangguan tersebut menyebabkan kemampuan pembangkit memasok daya ke sistem menurun sehingga pasokan listrik belum dapat beroperasi secara optimal.

“Untuk menjaga frekuensi dan kestabilan sistem, PLN menerapkan manajemen beban secara terbatas dan terukur,” ujarnya.

Iwan Soelistijono juga mengatakan, proses pemeliharaan di salah satu pembangkit mengalami keterlambatan sehingga pembangkit lain harus menanggung beban lebih besar.

Akibatnya, sebagian pembangkit mengalami forced outage atau gangguan tidak terencana.

“Karena plant outage tidak selesai sesuai jadwal, pembangkit lain harus memenuhi seluruh kebutuhan sistem. Akhirnya ada yang mengalami forced outage,” kata Iwan.

Kondisi tersebut membuat beban sistem harus dikurangi agar frekuensi jaringan tetap berada pada batas aman.

“Kalau sistem dipaksa tetap melayani seluruh beban, nanti terjadi blackout. Kalau sudah blackout, seluruh Kalimantan bisa padam,” ujarnya.

Menurutnya, pemulihan setelah blackout jauh lebih rumit dibanding melakukan pemadaman bergilir. (wartabanjar.com/sud)