Narasi Positif Papua Redupkan Kontroversi Film Pesta Babi
WARTABANJAR.COM - Dalam suatu podcast, Dandhy Laksono sang sutradara film kontroversial Pesta Babi mengatakan sudah banyak noise di medsos atau media digital terkait film tersebut.
Menurut Dandhy Laksono, noise-noise itu sengaja dibuat oleh para buzzer untuk mengaburkan pesan yang ingin disampaikan melalui film tersebut.
Dandhy pun menilai karena "dunia maya" sudah dikuasai buzzer, sehingga menggunakan cara offline dengan menggelar banyak nobar (nonton bareng) film kontroversial itu.
Pernyataan itu terasa aneh karena selama ini film-film karya Dandhy Laksono justru didistribusikan secara massif melalui ruang digital sehingga mampu menjadi perbincangan publik.
Mengapa Dandhy Laksono tidak lagi konsisten dengan strateginya? Apa yang membuat ia beralih menggunakan cara offline? Apakah karena banyaknya "serangan balik" dari berbagai kalangan yang menyajikan data dan fakta serta narasi positif yang bertolak belakang dengan film Pesta Babi?
Ataukah juga karena Dandhy Laksono ikut dipermasalahkan secara hukum oleh sosok yang dijadikan tokoh sentral di film Pesta Babi?
Terlepas dari itu, saat ini gaung film Pesta Babi mulai meredup oleh banyaknya narasi positif tentang kondisi Papua.
Narasi yang membantah sekaligus meluruskan ketidakbenaran dugaan sepihak tentang terjadinya eksploitasi di Papua melalui proses pembangunan melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti yang tergambar di film Pesta Babi.
Seperti dilansir inilah.com, berdasarkan berbagai temuan dan keterangan warga setempat, pembukaan lahan yang saat ini berjalan disebut baru sekitar 15 ribu hektare dan sebagian besar digunakan untuk pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, pelabuhan, panel surya, tangki bahan bakar, hingga fasilitas penyimpanan hasil pertanian.
Sementara luas kawasan pengembangan yang diproyeksikan pemerintah disebut baru sekitar 60.000 hektare (data Menteri Pertanian RI), bukan 2,5 juta hektare seperti yang berulang kali dinarasikan.
Perbedaan angka yang sangat jauh ini menjadi titik krusial. Sebab dalam sebuah film dokumenter, akurasi data adalah fondasi utama kredibilitas.
Lalu, tudingan mengenai eksodus besar-besaran warga akibat pembangunan PSN Wanam juga kurang ditopang bukti yang kuat di lapangan.