WARTABANJAR.COM, BARABAI – BPBD dan Damkar Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau, meski hingga pertengahan 2026 belum ditemukan titik panas maupun laporan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.

Personel piket disiagakan selama 24 jam secara bergantian. Selain itu, peralatan pemadam juga dipastikan dalam kondisi siap digunakan, untuk mengantisipasi potensi kebakaran.

Kepala Pelaksana BPBD dan Damkar HST melalui Kasi Kedaruratan, Fitriadinoor, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan berkala melalui aplikasi SiPongi, untuk mendeteksi kemungkinan munculnya hotspot.

“BPBD dan Damkar HST selalu bersiap siaga menghadapi karhutla dengan menyiapkan personel piket selama 24 jam, mempersiapkan peralatan pemadam kebakaran, serta melakukan pemantauan berkala melalui aplikasi SiPongi,” ujarnya, Senin (22/06/2026).

Menurutnya, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan kejadian karhutla di wilayah HST. Hasil pemantauan melalui aplikasi SiPongi, juga belum menunjukkan adanya titik panas.

Meski demikian, pengalaman tahun sebelumnya menjadi perhatian serius. Berdasarkan data 2025, Kecamatan Labuan Amas Utara menjadi wilayah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni delapan kali dengan luas lahan terdampak sekitar 8,9 hektare.

Disusul Kecamatan Hantakan yang mengalami lima kejadian dengan luas lahan terbakar sekitar 18 hektare, serta Kecamatan Batang Alai Timur dengan empat kejadian dan luas terdampak sekitar 9,3 hektare.

Baca Juga: Tiga Rumah di Kelua Tabalong Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Ratusan Juta Rupiah

Baca Juga: Remaja Tenggelam di Danau Biru Kabupaten Banjar Akhirnya Ditemukan

“Kawasan tersebut menjadi fokus pengawasan, karena vegetasi kering dan minimnya sumber air membuat area lebih mudah terbakar ketika kemarau,” kata Fitriadi.

Sebagai langkah pencegahan, BPBD dan Damkar HST bersama pihak terkait terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat, patroli bersama, serta pemantauan terhadap wilayah yang dianggap rawan terjadi kebakaran.

Selain itu, komunikasi cepat dengan aparat maupun masyarakat, juga terus diaktifkan agar penanganan dapat dilakukan sesegera mungkin, apabila ditemukan titik api.