WARTABANJAR.COM, BARABAI– Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) membawa target memperbaiki capaian pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Kalimantan Selatan ke-37 Tahun 2026 di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala.

Berbekal pembinaan yang dilakukan sejak akhir 2025, HST optimistis mampu menembus posisi sembilan besar dengan membawa kafilah hasil binaan sendiri tanpa mendatangkan peserta dari luar daerah.

Wakil Bupati HST yang juga Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) HST, Gusti Rosyadi Elmi, mengatakan persiapan kontingen tahun ini telah dimulai sejak MTQ tingkat kabupaten berakhir pada Oktober 2025.

Pembinaan dilakukan secara berkelanjutan melalui latihan formal maupun latihan mandiri bersama pelatih masing-masing.

Menjelang keberangkatan, para peserta kembali mengikuti training center selama tiga hari untuk mematangkan kemampuan dan kesiapan menghadapi persaingan di tingkat provinsi.

“Persiapan kita sudah berbulan-bulan sejak tahun kemarin, pasca-MTQ tingkat kabupaten. Kita terus melakukan pelatihan, baik secara formal maupun mandiri. Insyaallah persiapan tahun ini jauh lebih siap,” ujar Gusti Rosyadi.

Dengan persiapan yang lebih panjang dibanding tahun sebelumnya, HST berharap mampu memperbaiki posisi yang diraih pada MTQ Kalsel 2025.

“Tahun kemarin kita peringkat 11. Mudah-mudahan tahun ini bisa lebih baik, bisa sampai peringkat delapan atau sembilan, minimal sembilan,” katanya.

Optimisme tersebut mengiringi pelepasan kontingen HST menuju MTQ Kalsel ke-37 di Marabahan.

Sebanyak 94 orang yang terdiri dari 53 peserta, pelatih, dan official dilepas di halaman Gedung Mahligai Inspirasi Al Quran Barabai, Jumat (19/6/2026)

Pada MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Selatan tahun ini, HST akan mengikuti sekitar 90 persen cabang perlombaan.

Hanya tiga hingga empat cabang yang belum dapat diikuti karena tingkat kesulitan dan persyaratan yang cukup tinggi.

“Dari keseluruhan itu ada tiga atau empat cabang yang belum bisa kita ikuti karena tingkat kerumitannya, tetapi hampir 90 persen cabang bisa kita ikuti dan kita berharap anak-anak menampilkan performa terbaik,” ujarnya.

Menurut Gusti Rosyadi, cabang tafsir berbahasa Arab, Inggris, dan Indonesia masih menjadi tantangan tersendiri karena menyaratkan peserta memiliki hafalan 30 juz Al Quran.