Selain perlakukan berbeda terhadap Timnas Iran, kontroversi berikutnya juga menimpa Omar Artan, wasit elit asal Somalia yang baru saja didobatkan sebagai wasit terbaik Afrika.

Artan dipilih oleh FIFA sebagai salah satu dari 52 pengadil resmi untuk Piala Dunia 2016, namun gagal masuk Amerika Serikat.

Begitu mendarat di Bandar Internasional Miami, Artan langsung ditahan dan diintrogasi selama 11 jam oleh Otoritas Bea Cukai dan juga Pelindungan Perbatasan Amerika.

Pemerintah Amerika menolak izin masuknya atas alasan masalah keamanan. Pejabat Amerika menuduhnya punya keterkaitan dengan kelompok militan Al-Shabaab, sebuah klaim yang kemudian dibantah keras oleh Artan sendiri.

Padahal Artan punya dokumen resmi dari FIFA, juga memegang paspor diplomatik, dan mengantongi visa Amerika yang sah, yang diterbitkan seminggu sebelumnya.

Selain Artan, Timnas Senegal juga ikut merasakan getirnya diskriminasi birokrasi di pintu masuk Amerika Serikat.

Langkah sang juara Piala Afrika 2021 ini untuk berlagak di Piala Dunia harus dinodai oleh insiden di bandara.

Sejumlah pilar penting tim, mulai dari staf teknis sampai jajaran ofisial delegasi, dipaksa menjalani interrogasi berlapis, kemudian verifikasi dokumen yang sangat mengelelahkan.

Lalu, pemeriksaan super ketat ini terindikasi juga tebang pilih. Prosedur imigrasi yang intimidatif dan interogasi panjang, nyaris selalu menimpa negara-negara dari kawasan tertentu, misalnya adalah Afrika dan juga Timur Tengah.

Sebaliknya, negara-negara Eropa atau Amerika Latin melenggang masuk dengan karpet merah tanpa hambatan berati.

Akibatnya, sebuah preseden pun tercipta, Piala Dunia 2026 mempertontonkan standar ganda yang nyata, di mana semua peserta dipisahkan oleh kelas paspor dan juga asal negara mereka. (Wartabanjar.com)