WARTABANJAR.COM, TANJUNG- Di tengah derai air mata dan senyum yang tak sepenuhnya mampu disembunyikan, halaman SMPN 1 Upau, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Rabu (10/6/2026), berubah menjadi tempat paling hangat antara anak dan orang tua.

Bukan sekadar acara perpisahan.

Hari itu, halaman sekolah menjadi panggung pengukuhan sekaligus ruang pengakuan: tentang cinta, pengorbanan, dan rasa terima kasih yang selama ini mungkin tak selalu terucap.

Satu per satu siswa kelas IX duduk bersimpuh di hadapan orang tua mereka.

Di depan kursi yang telah berjajar rapi, para ayah dan ibu duduk dengan kaki dimasukkan ke dalam baskom kecil yang dibawa dari rumah oleh anak-anak mereka.

Dalam hening yang khidmat, air mengalir pelan membasuh kaki orang tua, disusul isak tangis yang pecah hampir bersamaan.

Di momen itu, tidak ada jarak antara guru, siswa, dan orang tua.

Yang tersisa hanya perasaan yang begitu murni: permintaan maaf, rasa syukur, dan penyesalan atas segala ucapan atau sikap yang pernah melukai, baik disengaja maupun tidak.

Dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca, para siswa mencuci kaki orang tua mereka sambil menundukkan kepala, memohon maaf atas perjalanan panjang selama menempuh pendidikan di bangku SMP.

Sebagian orang tua tak kuasa menahan tangis, memeluk anaknya erat-erat saat prosesi berlangsung, seolah ingin menghapus seluruh lelah dan perjuangan selama ini.

Tradisi cuci kaki orang tua ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian perpisahan SMPN 1 Upau.

Bagi sekolah, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan simbol bakti dan penghormatan anak kepada orang tua yang telah setia mendampingi, membiayai, dan memberikan semangat hingga anak-anak mereka menyelesaikan pendidikan di jenjang SMP.

Kepala SMPN 1 Upau, Sugeng Prayetno, mengatakan bahwa kegiatan perpisahan tahun ini juga diisi dengan berbagai penampilan ekstrakurikuler siswa, mulai dari paduan suara, puisi, pencak silat, drumben, hingga sendra tari.