Pemkab HST Dorong Keluarga Perkuat Pendampingan bagi ODGJ
WARTABANJAR.COM, BARABAI – Keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam proses pemulihan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Karena itu, keluarga perlu memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup, agar mampu memberikan pendampingan yang tepat kepada anggota keluarga yang mengalami gangguan kejiwaan.
Upaya tersebut menjadi salah satu tujuan kegiatan Bimbingan Fisik, Mental, Spiritual, dan Sosial bagi Keluarga ODGJ, yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Hulu Sungai Tengah (HST) di Kecamatan Batu Benawa, Selasa (9/6/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPKB PPA) Kabupaten HST itu, dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati HST Gusti Rosyadi Elmi, yang hadir mewakili Bupati HST Samsul Rizal.
Dalam sambutannya, Wabup Gusti Rosyadi Elmi menegaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan terdekat sekaligus garda terdepan dalam proses perawatan dan pemulihan ODGJ.
“Orang dengan gangguan kejiwaan adalah bagian dari masyarakat yang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan, perlindungan, dan kesempatan hidup yang layak,” ujarnya.
Baca Juga: Bupati HST Ajak Masyarakat Dukung Kawasan Tanpa Rokok dan Layanan Kesehatan
Menurutnya, pemulihan kesehatan jiwa tidak hanya berkaitan dengan aspek medis semata. Dukungan psikologis dari keluarga, pembinaan spiritual, serta penerimaan sosial dari lingkungan sekitar juga menjadi bagian penting dalam membantu ODGJ menjalani proses pemulihan.
Karena itu, peran keluarga dinilai sangat menentukan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung dan memberikan motivasi bagi ODGJ, untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik.
“Dengan sinergi yang baik, insya Allah ODGJ dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan mampu berfungsi secara sosial sesuai kemampuannya,” katanya.
Wabup Gusti Rosyadi Elmi juga mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kepedulian terhadap ODGJ dan keluarganya. Ia berharap tidak ada lagi stigma maupun diskriminasi yang dapat menghambat proses pemulihan.