Diduga Gengster, Dua Remaja Diserang Pakai Sajam di Jalan Tembus Mantuil Banjarmasin
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Rekaman video sekelompok remaja diduga gengster Banjarmasin membawa senjata tajam viral di media sosial, Jumat (5/6).
Diketahui kejadian sekelompok remaja yang membawa senjata tajam tersebut terjadi di Gang Hariti, Jalan Tembus Mantuil, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Kejadian terjadi pada pukul 03.00 WITA dinihari. Diduga mereka melakukan penyerangan pada kelompok lain.
Informasi dihimpun, dua remaja warga sekitar mengalami luka pada tangan dan pinggang akibat penyerangan tersebut seperti dikutip dari info_banjarmasin.
Hingga berita ini dirilis, wartabanjar.com belum mendapatkan konfirmasi dari pihak berwajib.
Baca Juga 25 Pedagang Ayam dan Sayur Ditertibkan Saat Berjualan di Badan Jalan Pasar Keramat Barabai HST
Fenomena gengster remaja menurut Nurchayati S.Psi., M.A., Ph.D, dosen Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dikutip situs Universitas Negeri Surabaya bisa dilihat dari beberapa faktor:
- Perhatian
Anak-anak muda secara psikologis ada di fase sedang mencari jati diri. Mereka ingin dianggap dewasa atau ingin diakui eksistensinya.
Untuk memperoleh ini ada yang lewat kegiatan positif dan kadang lewat tindakan yang mengarah pada aksi kekerasan atau tawuran dan sebagainya.
“Satu sisi mereka ini bisa juga kurang perhatian dari orang tua, lantas mencari perhatian di luar dengan cara-cara yang arahnya bisa jadi problem sosial,” ujarnya.
- Lingkungan
Tak dapat perhatian di lingkungan keluarga bisa memicu remaja menyalurkan atau mencari perhatian di lingkungan pertemanannya.
Mereka bisa bebas bercerita, menyampaikan keinginan dan keresahannya dengan teman-temannya di tempat tongkrongan.
Jika lingkungan pertemannya positif, tentu mereka bisa menyalurkan energinya ke arah yang positif.
Namun, ketika lingkungan pertemanannya negatif yang tentu bisa berbahaya.
Remaja bisa punya ruang dan peluang untuk menceritakan, merencanakan dan melakukan apa saja di dalam lingkungan pertemanannya.
“Anak-anak yang lugu saja, kalau ada di kelompok pertemanan yang agresif bisa ikutan agresif,” paparnya.
- Game Konten Kekerasan (Violence)