Diduga Gengster, Dua Remaja Diserang Pakai Sajam di Jalan Tembus Mantuil Banjarmasin
Ternyata, tawuran dan aksi kekerasan juga disebabkan karena faktor game yang tidak bisa lepas dari keseharian anak-anak muda.
Laporan We Are Social, pada awal 2022, menempatkan Indonesia sebagai pemain video game terbanyak ketiga di dunia. Jenis game yang dimainkan remaja bahkan anak-anak ini mengandung unsur kekerasan.
“Satu sisi game perang ini bisa berdampak pada aspek emosi atau mental remaja sehingga terbiasa dengan hal-hal yang sering mereka mainkan di game. Di sisi lainnya, game seperti jadi sarana melampiaskan keresahan mereka dan ujung-ujungnya bisa berdampak pada perilaku mereka sehari-hari seperti lebih agresif dan temperamen misalnya,” terangnya.
- Pelajaran
Selain itu, juga bisa disebabkan karena kurangnya muatan pelajaran keagamaan yang mereka dapatkan di rumah maupun di sekolah.
Bagi Nurchayati, pendidikan agama tidak bisa hanya sebagai pelajaran tambahan, tetapi benar-benar sebagai sarana pendidikan nilai dan karakter anak-remaja.
“Kalau arahnya ke sana, berarti bukan hafalan muatannya, tetapi lebih ke praktek atau pembiasaan dan keteladanan. Nilai agama ini bisa menjadi rem buat remaja dalam menyalurkan energi mereka," jelasnya. (Wartabanjar.com/atoe)
Editor Restu