Program PSF Google yang dilakukan di puluhan negara lain untuk membantu pelatihan dan implementasi Chromebook, disalahartikan sebagai “kickback”. Meeting resmi dan transparan dengan pihak Google, di mana semua yang hadir menyebut tidak ada kesepakatan, disalahartikan sebagai mufakat jahat. Tetapi keempat meeting saya dengan Microsoft, pemilik Windows, diabaikan.

Kata-kata “Go Ahead” atau “Silahkan”, disalahartikan sebagai perintah. Niat baik melibatkan anak muda dari bidang teknologi, disalahartikan sebagai “shadow” organisasi yang seolah-olah gelap dan menakutkan. Niat baik melepaskan hak suara saham GoTo saya untuk menghindari konflik kepentingan, disalahartikan sebagai penyamaran kendali.Niat baik melaporkan kekayaan saya secara jujur dan utuh lewat LHKPN dan SPT pajak dijadikan senjata untuk menuntut Uang Pengganti.

Majelis Hakim yang mulia, setelah 5 bulan bersidang, tidak ada satu pun bukti bahwa saya menerima keuntungan, baik uang maupun saham, yang berkaitan dengan pengadaan Chromebook. Tidak ada laporan PPATK saya menerima sepeserpun uang atau saham dari kementerian, vendor laptop, reseller CDM, Google, PTGI, maupun GoTo.

Karena tidak ada bukti konkrit keuntungan pribadi, saya sangat sedih dengan narasi baru yang disebarkan. “White Collar Crime” atau penjahat kerah putih. Saya dituduh terlalu cerdas untuk korupsi yang kelihatan di permukaan. Begitu hebatnya penyamaran korupsi saya, sampai saya, maupun jaksa, tidak mengerti modus tersebut. Karena jaksa sudah menyerah berargumentasi dengan bukti, yang tersisa hanya narasi kecurigaan.