WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Kasus penganiayaan yang dilakukan pria berinisial L (41) di Desa Pakutik, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, turut menjadi perhatian terkait kesehatan mental masyarakat.

Dalam peristiwa yang terjadi Selasa (19/5/2026) pagi itu, satu orang meninggal dunia, sementara dua lainnya mengalami luka berat akibat serangan menggunakan parang.

Dalam pemeriksaan awal, pelaku disebut sempat mengaku mendengar bisikan sebelum melakukan penyerangan.

Baca Juga: Jelang Idul Adha 1447 H, Pedagang Hewan Kurban Berharap Penjualan Meningkat

Baca Juga: 29 Tahun Tragedi Jumat Kelabu, Penanda Kayu di Makam Para Korban di Banjarbaru Mulai Kusam

Terkait kasus tersebut, Kepala Dinas Sosial P3AP2KB Kabupaten Banjar, Erny Wahdini, menilai kondisi semacam itu bisa berkaitan dengan gangguan serius pada kesehatan mental seseorang.

Menurutnya, tindakan kekerasan akibat mendengar suara atau bisikan, umumnya terjadi saat seseorang tidak mampu membedakan suara nyata dengan pikirannya sendiri.

"Kalau menurut saya terkait kasus tersebut bisa dilihat dari berbagai aspek. Membunuh karena merasa mendengar bisikan biasanya masuk kategori tindakan yang dipengaruhi halusinasi auditorik, perintah atau command hallucination," ujarnya, Sabtu (23/5/2026).

Erny menjelaskan, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan niat jahat, melainkan adanya gangguan pada cara otak memproses realitas.

Ia menyebut kondisi seperti itu kerap ditemukan pada penderita skizofrenia, maupun gangguan skizoafektif.

"Kalau suara itu bersifat perintah dan otoriter, penderita bisa merasa wajib mengikuti. Mereka tidak mampu membedakan mana suara nyata dan mana yang berasal dari pikirannya sendiri," jelasnya.

Selain faktor kejiwaan, Erny juga menyoroti gangguan neurologi yang dapat memicu munculnya halusinasi, mulai dari cedera kepala berat, epilepsi, infeksi otak, hingga pengaruh zat psikoaktif.

"Intinya ada perubahan fungsi atau biokimia otak, yang membuat otak menciptakan suara sendiri," katanya.

Di sisi lain, tekanan hidup, trauma masa kecil, isolasi sosial, hingga tekanan ekonomi disebut juga dapat memperparah kondisi mental seseorang.

Menurut Erny, seseorang yang tidak memiliki ruang bercerita atau akses bantuan psikologis, lebih rentan mengalami tekanan mental berat.