Baik di ruang-ruang kuliah UIN Antasari Banjarmasin maupun di majelis-majelis taklim kecil, beliau menyampaikan ilmu dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna.​

Masyarakat seringkali menjumpai beliau sebagai pribadi yang sangat terbuka.Tak ada sekat yang tebal antara dirinya dengan jemaah.

Sifat tawadhu (rendah hati) inilah yang membuatnya begitu dicintai, bukan hanya karena jabatannya, melainkan karena akhlak yang beliau tunjukkan sehari-hari.​​

Kini, meski estafet kepemimpinan di MUI Kalsel terus berlanjut, nama KH Husin Naparin tetap harum sebagai rujukan moral.

Beliau telah membuktikan bahwa menjadi seorang ulama besar berarti menjadi sosok yang mampu memberikan rasa aman bagi umatnya.

​Di tangan ulama seperti beliaulah, wajah Islam di Kalsel tetap tampil dengan rona yang ramah, intelektual, dan penuh kasih sayang.

Sosoknya akan selalu dikenang sebagai penjaga marwah ulama yang dedikasinya tak lekang oleh waktu. (Wartabanjar.com/berbagaisumber/dwisud)

Editor Restu