Sekitar pukul 01.00 dini hari, korban sempat mengirim selfie dengan keterangan ingin tidur. Namun satu jam kemudian, muncul status WhatsApp berisi video yang memperlihatkan korban tanpa busana bagian atas.
“Sepertinya video lama, karena terlihat seperti siang hari dan berada di dalam kamar,” ungkap saksi di persidangan.
Upaya menghubungi korban setelah itu tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya, sekitar pukul 04.00 Wita, korban sempat mengirim pesan terakhir di grup, menyebut unggahan tersebut sebagai kesalahan.
“Salah kirim. Gila, malu,” tulis korban, yang menjadi komunikasi terakhirnya.
Sementara itu, saksi lain bernama Rahmat, petugas kebersihan, mengisahkan momen saat pertama kali menemukan jasad korban di drainase kawasan kampus STIH Banjarmasin. Awalnya ia mengira benda tersebut hanyalah boneka.
“Setelah diperhatikan lagi, ternyata manusia,” ujarnya.
Jasad ditemukan dalam posisi telentang, dengan kaki mengarah keluar gorong-gorong. Proses evakuasi pun berlangsung sulit karena sempitnya ruang.
Petugas evakuasi, Lazuardi dan Helmi, menyebut kondisi jasad saat ditemukan belum kaku. Korban hanya mengenakan pakaian bagian atas, sementara celana ditemukan di bawah tubuhnya.
“Leher korban tertutup kerudung,” kata Helmi.
Kesaksian lain yang menyita perhatian datang dari Dea, mantan kekasih terdakwa. Ia bahkan menolak berada satu ruangan dengan terdakwa hingga sidang dilakukan secara virtual.







