WARTABANJAR.COM, JAKARTA — Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, meminta pemerintah agar tidak terlena dengan laporan penurunan kasus campak sebesar 95 persen di awal tahun 2026. Menurutnya, angka statistik yang menggembirakan tersebut tidak boleh menutupi fakta adanya anak-anak yang meninggal akibat komplikasi penyakit.
“Kita tidak boleh hanya terpaku pada angka 95 persen. Penurunan kasus itu memang hasil kerja keras, tetapi fakta bahwa masih ada anak yang meninggal menunjukkan ada sistem yang belum tuntas. Statistik bukan segalanya jika kita masih kehilangan nyawa anak-anak kita,” tegas Netty, Jumat (27/3/2026).
Politisi PKS ini menyoroti adanya celah kekebalan (immunity gap) yang berpotensi menjadi bom waktu. Ia menilai, keberhasilan menekan jumlah kasus memang langkah darurat yang baik, namun fatalitas atau kematian menunjukkan penanganan di tingkat akar rumput masih memiliki kelemahan.
Netty mendesak Kementerian Kesehatan untuk tetap waspada dan tidak mengendurkan upaya meskipun tren kasus sedang melandai. Ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap distribusi vaksin dan kecepatan penanganan komplikasi di puskesmas, terutama di wilayah yang pernah menjadi zona merah.
“Pemerintah jangan cepat puas. Penurunan ini harus dibarengi dengan jaminan bahwa tidak akan ada lagi KLB di masa depan. Kita butuh jaminan perlindungan total, bukan sekadar laporan statistik di atas kertas,” pungkasnya. (Wartabanjar.com/berbagai sumber)






